Padang Pariaman – Isak yang tak terdengar itu masih tinggal di sudut-sudut Balah Hilia. Di Mushalla Haqqul Yakin, Lubuak Aluang, pada Kamis malam (26/2/2026), Tim Safari Ramadhan (TSR) 7 Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat hadir bukan di tengah kemewahan, melainkan di tengah sisa-sisa duka yang belum sepenuhnya reda.
Ramadhan kali ini terasa berbeda, lebih hening, lebih dalam, dan lebih menuntut kehadiran yang nyata.
Rombongan dipimpin Kepala Dinas Perikanan Padang Pariaman, Khairul Nizam beserta Kabid dan Staf, Kadis PPKB Azwarman dengan Sekretaris, Kabid dan staf serta Kabag Administrasi Pembangunan Rafdal Andrianos
Kedatangan Rombongan TSR 7 disambut Camat Lubuak Aluang Dion Pranata, Kepala KUA Lubuak Aluang, Wali Nagari Balah Hilia, serta jamaah yang memadati mushalla sederhana itu.
Tidak ada tepuk tangan meriah. Yang ada hanya tatapan penuh harap. Apakah kali ini perubahan benar-benar datang?
Dalam sambutannya, Khairul Nizam tidak menutup mata pada kenyataan pahit. Ia mengakui suasana Ramadhan tahun ini masih dibayangi duka akibat bencana. “Momentum ini harus menguatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT,” ujarnya.
Namun kalimat itu tak berhenti sebagai nasihat spiritual, ia berubah menjadi seruan untuk bangkit bersama, menata ulang harapan yang sempat runtuh.
Ia menegaskan dengan mengakui pentingnya pendataan korban terdampak pascabencana agar tidak ada yang terlewat, agar setiap luka tercatat, dan setiap kebutuhan bisa diperjuangkan hingga ke tingkat pusat.
Sebab terlalu sering, kata warga, derita hanya menjadi angka di atas kertas tanpa tindak lanjut nyata. Ramadhan, malam itu, menjadi ruang pengingat bahwa birokrasi harus berpihak pada yang paling terdampak.
Di sisi lain, ancaman sosial tak kalah mengkhawatirkan. Kenakalan remaja seperti narkoba, tawuran, pergaulan bebas. Disebut makin meresahkan dan risau. Menurut dia, di tengah ekonomi yang goyah dan kontrol keluarga yang melemah, generasi muda bisa terseret arus tanpa pegangan.
“Mari kita jaga keluarga kita masing-masing,” ajaknya tegas. Ramadhan bukan sekadar puasa, tapi benteng moral terakhir sebelum masa depan kehilangan arah.
Kemudian menutup kegiatan, TSR 7 atas nama Bupati Padang Pariaman, menyerahkan bantuan Rp15 juta untuk kelanjutan pembangunan mushalla serta satu paket Al-Qur’an.
Nominal itu mungkin terlihat kecil di meja anggaran. Namun bagi jamaah, bantuan tersebut adalah simbol bahwa perjuangan gotong royong mereka membangun rumah ibadah tidak dibiarkan berjalan sendirian di tengah keterbatasan.
Malam itu, doa-doa melangit lebih panjang dari biasanya. Di Mushalla Haqqul Yakin, warga tak hanya memohon keberkahan Ramadhan.
Mereka menagih komitmen, menuntut keberlanjutan, dan berharap agar kunjungan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Karena bagi Balah Hilir, Ramadhan bukan sekadar bulan suci, ia adalah ujian. Apakah kepedulian benar-benar hadir, atau hanya datang lalu pergi.(bay).






