Kota Pariaman – Masih segar ingatan warga Pariaman, Sumatera Barat ketika banjir besar pekan lalu menghantam rumah, menutup jalan, dan memaksa ribuan orang mengungsi. Lumpur belum sepenuhnya hilang, namun Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman bergerak cepat menyiapkan benteng baru untuk melindungi warganya dari ancaman bencana berikutnya.
Pemko Pariaman menggelar Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana di Aula BPBD, Kota Pariaman Rabu (2/12/2025). Pesertanya adalah perwakilan Perangkat Desa dan Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang tinggal di sepanjang garis pantai. Mereka yang menjadi garda terdepan saat bencana datang tak terduga.
Dalam sambutannya, Wali Kota (Wako) Pariaman Yota Balad berbicara dengan nada yang sarat pengalaman. “Pariaman ini daerah dengan potensi ancaman bencana yang besar,” ujarnya. Luka banjir satu minggu penuh, sejak Kamis (27/11), menjadi pengingat keras betapa rentannya kota ini.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa di Pariaman, meski ada longsor dan rumah warga yang rusak,” ungkapnya dengan rasa syukur bercampur keprihatinan.
Namun demikian, kita telah melaporkan ke pihak BNPB bahwa Pariaman mengalami kerugian mencapai Rp131 Miliar, ini sangat berat bagi Kota Pariaman. “Semoga BNPB Pusat bisa merespon untuk melakukan rehabilitasi pasca banjir ini,” harapnya.
Lebih lanjut, Yota Balad menegaskan bahwa mitigasi bukan tugas pemerintah sendiri. KSB, kata dia, adalah mata, telinga, dan kaki pemerintah di lapangan.
“Saya minta KSB menjadi perpanjangan tangan pemerintah. Kalianlah yang pertama melihat, merasakan, dan menyampaikan kondisi bencana agar warga bisa segera selamat,” tegasnya.
Pengetahuan yang tepat, tindakan yang cepat, dan koordinasi yang kuat dapat menentukan hidup-mati warga di saat krisis.
Ia juga menyampaikan informasi BMKG bahwa pesisir barat Sumatera. Termasuk Kota Pariaman yang berada di zona megathrust Mentawai, wilayah paling rawan gempa besar dan tsunami di Indonesia.
Sebagai langkah mitigasi, Pariaman akan menerima bantuan alat deteksi tsunami High-Frequency (HF) Radar dari Pemerintah Jerman. Alat ini direncanakan dipasang pada 2026 di Pantai Taman Anas Malik, Kecamatan Pariaman Tengah.
“Alat ini bisa mengirim sinyal langsung ke android ketika ada gempa dan potensi tsunami. Bahkan bermanfaat juga untuk membantu nelayan mencari ikan,” jelas Yota Balad.
Pelatihan yang diikuti 45 peserta ini berlangsung selama dua hari, 3–4 Desember 2025. Yota Balad berharap ilmu yang diterima tidak hanya didengar, tetapi ditanam kuat dalam praktik.
“Ini bukan pelatihan biasa. Ini ilmu untuk menyelamatkan nyawa. KSB adalah ujung tombak BPBD saat bencana datang,” tutupnya.
Dengan semangat baru, Pemko Pariaman berupaya memastikan bahwa luka banjir kemarin menjadi pelajaran, bukan ketakutan. Setiap ancaman bisa dilawan dengan kesiapsiagaan yang lebih matang. Pariaman harus siap, bukan kalah ketika alam kembali menguji.(r-mak).






