Jakarta – Dalam Kongres IX Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) yang digelar di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas kondisi ketenagakerjaan pasca pandemi Covid-19 dan pentingnya digitalisasi serta penyediaan lapangan kerja.
Perkembangan digitalisasi yang terjadi dalam berbagai sektor telah berdampak pada penurunan permintaan tenaga kerja. Indonesia juga dihadapkan pada tantangan bonus demografi di mana pada tahun 2030 diperkirakan jumlah penduduk usia kerja akan mencapai 201 juta orang atau setara dengan 68,1% dari total penduduk.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan lapangan kerja menjadi hal yang sangat penting agar partisipasi angkatan kerja terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif.
“Momentum bonus demografi ini hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa. Dan bonus demografi ini akan menentukan apakah negara kita, Indonesia, dapat keluar dari jebakan negara menengah. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan produktivitas dan terus belajar,” ujar Menko Airlangga Hartarto dalam sambutannya.
Menko Airlangga juga menyampaikan kondisi terkini perekonomian Indonesia dan menyatakan bahwa pencapaian tersebut tidak lepas dari kontribusi dan optimisme para pekerja dan buruh.
“Indeks Manajer Pembelian (PMI) kita baru-baru ini dirilis dengan angka 52,5%. Ini tidak akan terjadi tanpa adanya optimisme dari teman-teman buruh. Angka ini merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN. Sehingga perekonomian kita mampu tumbuh sebesar 5% saat masa pandemi Covid-19. Kita juga berhasil menjaga inflasi di angka 3,52%. Pertumbuhan 5% tersebut merupakan yang tertinggi kedua di antara negara anggota G20. Dan pertumbuhan ini adalah kontribusi dari semua pihak, baik pengusaha maupun pekerja dan buruh,” jelas Menko Airlangga.
Salah satu tantangan lain dalam ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja. Pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas melalui program Kartu Prakerja yang dilaksanakan secara digital dan program lainnya yang bertujuan meningkatkan kualitas para pekerja.
Selain itu, transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan juga memberikan peluang lapangan kerja, seperti pengembangan industri berbasis energi surya, geothermal, energi hidro, dan industri hijau (green energy).
Menko Airlangga memberikan apresiasi kepada KSBSI atas perannya dalam Labor20 pada perhelatan G20 sebelumnya. Serikat buruh dianggap sebagai mitra strategis Pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Pemerintah juga telah mengambil kebijakan Proyek Strategis Nasional yang melibatkan banyak tenaga kerja. Hampir semua program kerja Pemerintah bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja,” tambah Menko Airlangga.
Dalam Kongres KSBSI ini, para peserta dan perwakilan serikat buruh membahas isu-isu ketenagakerjaan dan memberikan kontribusi untuk merumuskan langkah-langkah dalam mencapai perekonomian yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan. (des)







