Muba  

Warga Binaan Lapas Sekayu Dibekali Ilmu Fardhu Kifayah, Belajar Mengurus Jenazah

Sekayu, fajarharapan.id  – Suasana hening menyelimuti Masjid Darut Taubah Lapas Kelas IIB Sekayu pada Sabtu (31/5/2025) pagi. Ratusan warga binaan tampak duduk khusyuk, menyimak setiap arahan dari narasumber. Hari itu, mereka tidak sekadar menjalani rutinitas biasa, tetapi mengikuti pelatihan penting: tata cara mengurus jenazah, khususnya mengkafani, sesuai tuntunan syariat Islam.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan rohani yang digagas pihak Lapas, sebagai upaya menanamkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan yang kuat kepada para warga binaan. Tak sekadar teori, kegiatan ini mencakup praktik langsung mulai dari memandikan hingga mengkafani jenazah dengan perlengkapan yang telah disediakan.

Kalapas Sekayu, Aris Sakuriyadi, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pelatihan ini sebagai bekal hidup di tengah masyarakat kelak. Menurutnya, pembinaan semacam ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam proses reintegrasi sosial warga binaan setelah mereka selesai menjalani masa pidana.

“Kami ingin warga binaan tidak hanya mendapat pembinaan dari sisi hukum dan kedisiplinan, tapi juga spiritual. Ilmu fardhu kifayah seperti ini sangat penting, karena belum tentu semua orang di luar sana mengetahuinya. Jika mereka nanti kembali ke masyarakat, mereka bisa jadi tumpuan dalam urusan sosial keagamaan,” ujar Aris.

Kegiatan ini dipandu oleh ustaz dan pembimbing rohani dari Kantor Kementerian Agama setempat yang telah berpengalaman dalam bimbingan keislaman di lingkungan pembinaan. Materi disampaikan dengan pendekatan yang sederhana namun mendalam, membuat para peserta mudah memahami proses pemulasaran jenazah secara syariat.

Antusiasme tampak jelas dari raut wajah para peserta. Mereka menyimak setiap penjelasan dengan serius, tak sedikit yang mencatat atau bahkan mengajukan pertanyaan seputar praktik yang dijelaskan. Beberapa warga binaan terlihat haru, merasa mendapatkan ilmu yang selama ini jauh dari jangkauan mereka.

“Ilmu ini sangat berharga. Jujur, saya baru tahu secara lengkap tata cara memandikan dan mengkafani jenazah. Dulu saya hanya dengar sepintas dari masyarakat, tapi tak pernah belajar langsung. Sekarang saya merasa punya bekal, insya Allah kalau nanti ada kesempatan membantu di kampung, saya siap,” ujar Riko (nama samaran), salah satu peserta pelatihan.

Aris menambahkan, pelatihan ini akan menjadi program berkelanjutan. Ke depan, pihak Lapas akan menggandeng lebih banyak instansi dan tokoh agama untuk memperkaya kurikulum pembinaan rohani. Tidak hanya pelatihan fardhu kifayah, tetapi juga pembelajaran Al-Qur’an, ceramah keagamaan rutin, hingga bimbingan psikologi berbasis nilai spiritual.

“Tujuan kami sederhana. Kami ingin ketika para warga binaan bebas nanti, mereka keluar sebagai manusia yang lebih baik, lebih taat, dan lebih siap menghadapi kehidupan sosial. Bekal spiritual ini akan menjadi pondasi untuk memulai hidup baru yang lebih positif,” katanya.

Pihak Lapas juga berharap kegiatan ini dapat memicu perubahan perilaku di lingkungan dalam. Dengan meningkatnya kesadaran spiritual, suasana kehidupan di dalam Lapas diharapkan lebih kondusif, penuh saling menghargai, dan terbentuk komunitas pembinaan yang sehat.

Pelatihan tersebut diakhiri dengan doa bersama, yang dipimpin oleh ustaz pembimbing. Para peserta tampak larut dalam haru, sebagian dari mereka menyeka air mata saat mendoakan orang tua, keluarga, dan diri mereka sendiri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depan.

Program pembinaan semacam ini menjadi bukti nyata bahwa di balik jeruji besi, masih ada ruang untuk harapan, perubahan, dan pertumbuhan. Lapas Sekayu terus berkomitmen menjadi wadah pembinaan yang tak hanya mendisiplinkan, tetapi juga memanusiakan dengan pendekatan spiritual yang menyentuh hati.(Rusdian)