Sampit, fajarharapan.id – Potensi tersembunyi muncul dari limbah minyak kotor, yang dikenal sebagai Palm Acid Oil (PAO). Produksi PAO yang melimpah dari beberapa perusahaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika dimanfaatkan dengan baik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Machmoer, menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kotim dapat memperoleh PAD dengan menyediakan angkutan untuk mengangkut PAO tersebut. Dengan jumlah pengangkutan yang besar, ini bisa menjadi sumber PAD yang signifikan bagi daerah.
“Peluang ini sangat besar bagi pemerintah daerah. Hanya perlu menyiapkan angkutan dengan kapasitas yang mencukupi. Satu kilogram PAO saja bisa bernilai Rp9 ribu. Bayangkan jika mereka mengangkut 20 ton dalam satu kali perjalanan,” ungkapnya setelah menghadiri audiensi kolaborasi BUMD dan persiapan peletakan batu pertama limbah B3 medis.
Machmoer berpendapat bahwa pemanfaatan potensi PAD melalui sektor ini dapat diwujudkan dengan penetapan Surat Keputusan (SK) Bupati Kotim. Potensi ini terlihat dari banyaknya perusahaan yang memiliki kolam penampungan PAO.
“Di daerah ini, ada 38 Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang memiliki 10 kolam penampungan PAO,” tambah Machmoer.
Hingga saat ini, DLH Kotim hanya memberikan rekomendasi untuk angkutan. Pasalnya, para pengangkut tidak berani beroperasi jika DLH belum mengonfirmasi bahwa minyak kotor yang diangkut bebas dari limbah berbahaya dan beracun (B3).
“Yang kita butuhkan hanyalah angkutan dari instansi terkait. Sejauh ini, para eksekutif dan pengusaha yang mengatur ini, termasuk para konsultan,” jelasnya.(audy)







