Jakarta – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membandingkan pertumbuhan ekonomi dengan mendaki gunung.
Dia menyamakan inflasi dengan hujan, karena ketika mendaki gunung dan hujan turun, jalan menjadi licin dan semakin sulit.
“Oleh karena itu, oksigen menjadi tipis. Maka dari itu, kita perlu bersatu dan bergerak bersama,” lanjut Airlangga.
Di tengah ketidakpastian global, dia menyatakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih terjaga. Ekonomi Indonesia tumbuh stabil di sekitar 5%. Bahkan, World Bank juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5% hingga tahun 2026.
Dia juga menyebutkan bahwa rasio utang Indonesia berada pada level aman di bawah 40%, tepatnya pada level 38%.
Bukan hanya itu, kebijakan moneter juga berperan strategis dalam menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menjelang akhir tahun kepemimpinan ASEAN oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia bersama negara-negara ASEAN telah berhasil menyusun Kerangka Ekonomi Digital. Ini adalah satu-satunya kerja sama ekonomi digital di dunia yang diinisiasi oleh ASEAN, sedangkan yang lainnya baru berada pada tahap CEPA dan FTA, tanpa melibatkan dimensi digital.
“Namun, dengan kepemimpinan dari Presiden, kita berhasil memimpin dunia, dan World Economic Forum menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa dan akan dibahas dalam pertemuan Davos mendatang,” tutup Airlangga.(BY)






