Langkah ParagonCorp ini membawa pesan penting bahwa kesehatan manusia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan spiritual. (Fotdok: Eko).
Kesehatan mental umat Muslim mendapat perhatian di tingkat internasional. Founder ParagonCorp memberikan dukungan pendanaan kepada Stanford University melalui Paragon-Wardah Research Fund untuk mendukung penelitian kesehatan mental dan psikologi Islam. Dukungan ini diarahkan kepada Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab di Stanford School of Medicine, dengan harapan pengetahuan yang dihasilkan dapat membantu menghadirkan layanan kesehatan mental yang lebih memahami kebutuhan dan keyakinan pasien Muslim. Langkah ParagonCorp ini membawa pesan penting bahwa kesehatan manusia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan spiritual.
Melalui pendanaan riset tersebut, ParagonCorp mendukung pengembangan pengetahuan yang dapat membantu tenaga kesehatan memahami pengalaman, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi komunitas Muslim ketika mencari pertolongan profesional. Upaya ini juga membuka ruang bagi pendekatan kesehatan mental yang lebih peka terhadap latar belakang agama dan budaya pasien.
Penelitian tersebut berada di bawah arahan Dr. Rania Awaad, MD, Clinical Professor of Psychiatry and Behavioral Sciences di Stanford University School of Medicine. Stanford Muslim Mental Health & Islamic Psychology Lab berfokus pada kajian kesehatan mental dalam konteks Islam dan kehidupan umat Muslim. Penelitian laboratorium ini mencakup stigma yang membuat sebagian orang enggan mencari bantuan profesional, kebutuhan pasien Muslim, serta hubungan antara kesehatan mental dan spiritualitas.
Deputy CEO and Chief of Research and Development ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, menegaskan bahwa dukungan ini berangkat dari keyakinan bahwa kesehatan manusia perlu dipahami secara menyeluruh. “Kami percaya bahwa kesehatan seorang manusia mencakup kondisi fisik, mental, dan spiritual,” ujarnya.
Ia berharap kontribusi melalui laboratorium Dr. Awaad dapat membantu mengembangkan pengetahuan agar umat Muslim di Indonesia maupun berbagai negara memperoleh layanan kesehatan mental yang memahami dan selaras dengan keyakinan mereka.
Urgensi penelitian ini semakin terlihat ketika dikaitkan dengan tantangan kesehatan mental di Indonesia. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan bahwa sekitar satu dari tiga anak dan remaja berusia 10–17 tahun, atau sekitar 15,5 juta orang, mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun sebelumnya.
Namun, hanya 2,6 persen yang mencari bantuan atau mengakses layanan konseling. Angka tersebut memperlihatkan pentingnya memperluas pemahaman, mengurangi stigma, dan mendorong akses terhadap bantuan profesional sejak dini.
Bagi Dr. Rania Awaad, keyakinan agama dapat menjadi salah satu sumber kekuatan bagi pasien dalam menjalani proses pemulihan. Akan tetapi, dimensi spiritual tersebut belum selalu terakomodasi dalam layanan kesehatan mental yang tersedia. Karena itu, penelitian yang memahami hubungan antara keyakinan, pengalaman hidup, dan kondisi psikologis dinilai penting untuk membantu tenaga profesional memberikan pelayanan yang lebih relevan dengan kebutuhan pasien Muslim.
Awaad menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan dukungan dari founder ParagonCorp. Menurutnya, dukungan tersebut membantu laboratorium melanjutkan pengembangan pengetahuan yang dibutuhkan tenaga kesehatan, pendidik, dan pemuka agama dalam mendampingi komunitas Muslim.
Riset laboratorium juga mencakup beragam persoalan, mulai dari psikologi Islam hingga isu kesehatan mental yang berkaitan dengan perilaku bunuh diri, penggunaan zat berbahaya, serta pengalaman kelompok migran dan mahasiswa. Kajian-kajian ini menunjukkan luasnya tantangan yang membutuhkan pendekatan ilmiah sekaligus pemahaman terhadap konteks sosial dan spiritual.
Melalui Paragon-Wardah Research Fund, pendanaan dapat digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan dan kebutuhan laboratorium sesuai misi penelitian di bawah arahan Awaad. Prioritas penelitian tetap ditetapkan oleh pihak laboratorium.
Skema ini memungkinkan dukungan berkontribusi pada pengembangan riset secara menyeluruh, sekaligus memberikan ruang bagi peneliti untuk menentukan kebutuhan ilmiah yang paling relevan bagi komunitas yang mereka pelajari.
Dukungan ParagonCorp kepada Stanford University menjadi bagian dari upaya memperkuat penelitian kesehatan mental yang memahami keberagaman pengalaman manusia, termasuk umat Muslim. Di tengah tantangan stigma dan rendahnya akses terhadap konseling, pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat membantu tenaga profesional menghadirkan layanan yang lebih inklusif dan peka terhadap keyakinan pasien.
Pesan utamanya jelas: mencari bantuan kesehatan mental bukanlah sesuatu yang perlu dipermalukan, dan pemahaman terhadap dimensi spiritual dapat menjadi bagian penting dalam membangun layanan yang lebih manusiawi. (*)







