47 Wartawan Muda Ditempa di OKK PWI Sumbar, Salah Langkah Hukum Mengintai

Payakumbuh – Menjadi wartawan bukan sekadar memegang pena, kamera, atau mikrofon. Satu berita bisa mengangkat suara masyarakat, tetapi satu kesalahan juga dapat menyeret wartawan ke persoalan hukum. Peringatan keras itu mengemuka saat Ketua PWI Sumatera Barat Widya Navies membuka Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) Angkatan II di Aula Balai Kota Payakumbuh, Sabtu (26/9/2026).

Sebanyak 47 calon anggota muda PWI Sumbar mengikuti proses pembekalan tersebut. Mereka tidak hanya digembleng untuk memahami teknik jurnalistik, tetapi juga dipersiapkan menghadapi konsekuensi profesi. Yakni etika, hukum, tanggung jawab, dan kewajiban menjaga marwah organisasi.

Widya Navies menegaskan, kebebasan pers tidak boleh berubah menjadi kebebasan tanpa batas. Wartawan harus memahami aturan sebelum turun ke lapangan, menguji informasi sebelum menulis, serta memastikan berita yang disajikan tetap berimbang dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan itu menjadi semakin penting karena OKK bukan sekadar agenda formal organisasi. Sejak kepemimpinan Widya Navies, tercatat 99 calon anggota muda PWI Sumbar telah mengikuti kegiatan serupa. Regenerasi terus bergerak, tetapi bertambahnya jumlah wartawan juga membawa tuntutan. Kualitas dan integritas tidak boleh tertinggal.

Materi yang diberikan pun menyentuh langsung medan kerja wartawan. Mulai dari tugas Dewan Kehormatan, AD/ART PWI, kesekretariatan, UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, hukum pers dan UU ITE, perlindungan perempuan dan anak, hingga Kode Etik Jurnalistik serta Kode Perilaku Wartawan.

Pembekalan kemudian dipertajam dengan teknik wawancara, penulisan straight news, dan feature.

Sejumlah pengurus PWI serta Dewan Kehormatan PWI Sumbar tampil sebagai pemateri, membekali peserta agar tidak hanya mampu menghasilkan berita, tetapi juga memahami batas dan tanggung jawab di balik setiap kalimat yang dipublikasikan.

Saat sertifikat diserahkan kepada 47 peserta, Widya kembali melontarkan pesan yang menjadi garis merah kegiatan tersebut.

“Jangan sampai wartawan PWI Sumbar terjebak dan tersandung di lapangan serta berurusan dengan ranah hukum. Jadilah wartawan yang berintegritas dan bertanggung jawab, jaga marwah PWI dan tulislah berita berimbang dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Pesannya jelas dan lugas kepada peserta OKK. Yakni menjadi wartawan bukan hanya soal berani memberitakan, tetapi juga berani mempertanggungjawabkan setiap berita.(bay)