Pariaman Borong Penghargaan, Tapi Puncak Masih Milik Daerah Lain

Bukittinggi – Panggung Jambore PKK Sumatera Barat 2026 menjadi saksi kiprah Kota Pariaman. Penghargaan demi penghargaan berhasil diraih, termasuk tiga Adhi Bhakti untuk kader yang telah mengabdi lebih dari satu dekade.

Namun di tengah pesta prestasi itu, ada satu kenyataan yang tak bisa ditutupi. Pariaman belum mampu merebut gelar juara umum.

Ajang Wirakarya (Jambore) Kader PKK ke-XXII Tingkat Provinsi Sumatera Barat yang berlangsung di Kota Bukittinggi pada 1–3 September 2026 menjadi arena pembuktian bagi kader PKK dari berbagai daerah. Pariaman tampil dengan sederet capaian.

Tiga kader, yakni Febrinasmawati dari Pokja II, Kasnelli dari Pokja I, dan Neri Ferina, Ketua TP-PKK Desa Kajai Kecamatan Pariaman Timur, menerima penghargaan Adhi Bhakti atas pengabdian dan dedikasi lebih dari 10 tahun.

Bukan hanya penghargaan pengabdian. Di arena Lomba Gerakan PKK Tingkat Provinsi Sumatera Barat 2026, Pariaman juga menunjukkan taringnya.

Pokja II yang diketuai Febrinasmawati meraih Juara II Kampung Mandiri, sementara Pokja III di bawah kepemimpinan Ira Afwandi menyabet Juara II Aku Hatinya PKK.

Kedua capaian tersebut menjadi bukti bahwa kader Pariaman mampu menempatkan diri di jajaran terbaik pada sejumlah kategori.

Dua penghargaan Harapan I juga berhasil dikantongi. Elok Darmi membawa Pariaman meraih Harapan I pada kategori Kelembagaan dan Tertib Administrasi (Sekretariat).

Sementara Pokja I yang dipimpin Kasnelli meraih Harapan I pada kategori Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital. Pariaman juga memperoleh Harapan II dalam Lomba Cakap Gelari Pelangi. Jika dihitung dari seluruh capaian, rapor Pariaman jelas tidak buruk.

Tetapi prestasi yang bertumpuk tetap menyisakan pekerjaan rumah. Ketua TP-PKK Kota Pariaman, Ny. dr. Yosneli Balad, secara terbuka mengakui bahwa tahun ini pihaknya belum berhasil membawa pulang gelar juara umum.

Ia memilih tidak menjadikan hasil tersebut sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai pemicu evaluasi.

“Walaupun tahun ini kita belum berhasil meraih juara umum, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat kita untuk terus berusaha, berbenah dan meningkatkan kemampuan,” ungkapnya.

Yosneli juga memberikan apresiasi kepada seluruh kader yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk membawa nama Kota Pariaman dalam ajang tingkat provinsi tersebut.

Menurutnya, berbagai penghargaan yang diraih merupakan hasil kerja keras dan kebersamaan seluruh kader. Ia pun menegaskan komitmen untuk kembali berjuang dan memberikan hasil yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Pariaman mampu meraih penghargaan. Jawabannya sudah terbukti: mampu.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih berat. Kapan Pariaman mampu mengubah deretan gelar juara dan penghargaan menjadi satu mahkota juara umum?

Piala-piala itu telah menjadi bukti kemampuan. Tahun depan, bukti tersebut ditantang untuk naik kelas, dari sekadar memborong penghargaan menjadi merebut puncak.(mak).