Padang Pariaman – Warga tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni. Mereka hanya ingin satu hal sederhana. Yaitu ketika kran dibuka, air mengalir.
Bukan sesekali, bukan setelah menunggu lama, dan bukan pula dengan kualitas yang membuat mereka kembali bertanya-tanya soal kelayakannya.
Di titik inilah pembenahan pelayanan air bersih Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Sumatera Barat menemukan ujian sesungguhnya.
Pelatihan Manajemen Air Berbasis Kompetensi Tingkat Muda yang dibuka Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis di Balairung Dempo Anai Land, Senin (31/8/2026), menjadi sinyal bahwa persoalan pelayanan air tidak boleh dipandang sebelah mata.
Para petugas Perusahaan Umum Daerah (Perumda) dituntut meningkatkan kemampuan agar gangguan distribusi dan persoalan teknis yang dirasakan warga tidak terus berulang.
Sebab, air bersih bukan proyek pencitraan. Ia menyentuh langsung dapur rumah tangga, kesehatan anak-anak, kebersihan keluarga, hingga martabat warga dalam memperoleh pelayanan dasar.
“Ketika aliran air tersendat, yang terganggu bukan sekadar aktivitas mandi atau mencuci, tetapi seluruh denyut kehidupan keluarga” katanya mengingatkan.
John Kenedy Azis menegaskan tata kelola air bersih menyangkut hajat hidup orang banyak. Air yang bersih dan higienis menjadi fondasi penting bagi kualitas hidup masyarakat.
Ia menuntut petugas bekerja dengan standar profesional, transparan, disiplin, dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Namun, pekerjaan rumah terbesar justru dimulai setelah ruang pelatihan ditinggalkan. Sertifikat kompetensi tidak akan berarti banyak jika keluhan pelanggan masih lamban ditangani, kebocoran berlarut-larut, distribusi tidak stabil, atau kualitas air belum sesuai harapan masyarakat.
Warga pada akhirnya tidak menilai pemerintah dari materi pelatihan, melainkan dari apa yang mereka rasakan setiap kali membuka kran.
Bupati John Kenedy Azis yang juga sebagai narasumber mendorong para petugas Perumda meninggalkan pola kerja lama dan membangun budaya kerja yang lebih disiplin serta berintegritas.
Pesannya jelas. Pelayanan publik harus bergerak dari sekadar menjalankan rutinitas menjadi kerja nyata yang mampu menjawab kebutuhan pelanggan secara cepat dan manusiawi.
Kini, masyarakat tinggal menunggu pembuktian. Apakah pelatihan ini benar-benar menjadi titik balik perbaikan layanan. Ataukah hanya kembali menjadi agenda yang selesai ketika acara ditutup?
Jawabannya sederhana dan tak membutuhkan panggung besar. Lihat kran warga.
Jika air mengalir lebih lancar, lebih bersih, dan keluhan ditangani lebih cepat, barulah publik bisa mengatakan perubahan itu benar-benar terjadi.(bay).







