Nunukan, fajarharapan.id – Bencana tanah longsor yang menerjang Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memutus urat nadi transportasi masyarakat. Sebanyak 1.507 warga yang tersebar di 13 desa kini terisolasi setelah akses jalan dan jembatan penghubung tertimbun material longsor.
Melihat kondisi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung mengerahkan dukungan penanganan darurat. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto memerintahkan tim penanganan darurat untuk segera turun ke lokasi dan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Menurut Suharyanto, langkah cepat diperlukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mempercepat pembukaan akses yang terputus akibat longsor.
“Kami terus memonitor perkembangan Nunukan di lapangan. Tim telah diperintahkan bergerak untuk memberikan pendampingan dan dukungan kepada pemerintah daerah,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Hasil kaji cepat menunjukkan longsor dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan dengan kondisi tanah yang labil. Material longsoran menutup jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Krayan Barat dengan Krayan Selatan, sekaligus merusak jalur penghubung vital bagi aktivitas masyarakat.
Sebanyak 460 kepala keluarga atau sekitar 1.507 jiwa terdampak langsung. Mereka berasal dari Desa Long Pa’sia, Liang Lunuk, Long Budung, Pa’ Dalan, Pa’ Urang, Pa’Tera, Pa’ Sing, Long Pupung, Pa’ Upan, Long Birar, Pa’ Kaber, Pa’ Amai, dan Pa’ Ibang. Hingga kini BPBD Kabupaten Nunukan masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan kondisi seluruh warga.
Terputusnya akses transportasi membuat distribusi logistik menjadi tersendat. Pasokan bahan bakar minyak, kebutuhan pokok, obat-obatan hingga susu untuk balita belum dapat dikirim secara optimal. Bahkan kendaraan pengangkut BBM dari Long Bawan menuju Long Kayu tidak bisa melintas akibat jalur yang tertutup longsor.
Dampak lain juga dirasakan pada sektor kelistrikan. Berkurangnya pasokan BBM menyebabkan operasional pembangkit listrik dibatasi. Jika sebelumnya listrik menyala sekitar 12 jam setiap hari, kini masyarakat hanya menikmati aliran listrik selama empat jam, yakni pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Untuk mempercepat penanganan, Bupati Nunukan menetapkan status tanggap darurat bencana tanah longsor selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Juli 2026. Status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah bersama BNPB untuk mempercepat distribusi bantuan, pemulihan akses jalan, serta memenuhi kebutuhan mendesak warga yang masih terisolasi.
BNPB memastikan koordinasi lintas instansi terus dilakukan agar pembukaan jalur menuju Krayan Selatan dapat segera terealisasi. Prioritas utama saat ini adalah mengembalikan akses transportasi sehingga bantuan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh desa terdampak secepat mungkin.(Fjr)







