Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menetapkan target penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai campuran bahan bakar pesawat hingga mencapai 50 persen pada tahun 2060. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi karbon sekaligus mendukung pertumbuhan industri penerbangan yang lebih ramah lingkungan.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menjelaskan bahwa pemanfaatan SAF saat ini masih berada pada tahap awal dengan komposisi sekitar 1 persen. Persentase tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap setelah melalui proses evaluasi terhadap performa dan kompatibilitasnya dengan mesin pesawat.
“Penggunaannya dimulai dari 1 persen untuk melihat bagaimana teknologi ini bekerja pada mesin pesawat. Setelah dilakukan evaluasi, kadar campuran SAF akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga diproyeksikan mencapai kisaran 30–50 persen pada 2060,” ujar Sokhib usai menghadiri Rapat Umum Anggota (RUA) INACA 2026 di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam pengembangan SAF adalah ketersediaan bahan baku. Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak bumi, SAF diproduksi dari berbagai jenis limbah, termasuk minyak jelantah. Karena itu, proses pengumpulan limbah dari rumah tangga maupun sektor industri menjadi faktor penting untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku.
Sokhib mengungkapkan bahwa uji coba penggunaan SAF dengan campuran 1 persen telah dilakukan pada sejumlah penerbangan domestik. Selanjutnya, pemerintah menargetkan implementasi awal SAF pada penerbangan internasional mulai 2027, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
“Pelaksanaannya direncanakan mulai tahun 2027. Jadwal pastinya masih menyesuaikan kesiapan pasokan dari Pertamina. Pada tahap awal, penerapannya difokuskan untuk penerbangan internasional yang beroperasi dari Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai,” jelasnya.
Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menyatakan pihaknya siap mendukung pemerintah dalam pengembangan penggunaan SAF hingga mencapai target campuran 50 persen.
Melalui program BUILD (Boeing University Innovation Leadership Development) yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pertamina, Boeing saat ini mengembangkan berbagai riset untuk menemukan metode terbaik dalam mengolah limbah menjadi bahan baku SAF.
Penelitian tersebut mencakup pemanfaatan sejumlah sumber daya lokal seperti minyak jelantah, limbah cair kelapa sawit (POME), limbah padi, hingga limbah kelapa sebagai bahan baku alternatif untuk produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Indra menilai kolaborasi tersebut tidak hanya akan meningkatkan kemampuan teknis Indonesia dalam mengembangkan SAF, tetapi juga memperkuat kesiapan industri nasional menghadapi transisi menuju penerbangan rendah emisi. Ia berharap Indonesia mampu menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan penerbangan berkelanjutan, baik di kawasan maupun di tingkat global.(BY)







