Jakarta – Pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang domestik itu turun sekitar 45 poin atau 0,25 persen dan berada di posisi Rp17.952 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah banyak dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya adalah masih adanya ketidakpastian dalam proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat risiko geopolitik tetap tinggi di pasar. Kondisi ini terjadi meskipun produksi minyak mentah AS berada pada level tertinggi, yang menunjukkan peningkatan pasokan global.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan di Doha. Iran menolak melakukan perundingan langsung dengan perwakilan senior AS yang datang ke kawasan tersebut, dan lebih memilih komunikasi melalui mediator pada level teknis. Situasi ini membuat harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu singkat menjadi semakin samar, termasuk terkait transisi dari gencatan senjata sementara menuju perjanjian damai jangka panjang.
Di sisi lain, harga minyak dunia sebelumnya sempat mengalami tekanan setelah konflik Iran mereda. Harga Brent tercatat turun sekitar 38 persen sepanjang kuartal kedua, setelah sebelumnya melonjak hampir 94 persen pada kuartal pertama. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam sejak kuartal pertama 2020 yang anjlok 66 persen.
Secara bulanan, harga minyak juga terus melemah, yakni sekitar 21 persen pada Juni setelah turun 19 persen di Mei. Ini menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, seiring berkurangnya kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Absennya pertemuan langsung antara AS dan Iran turut menambah ketidakpastian mengenai kecepatan penyelesaian isu-isu yang masih tertunda dalam kerangka negosiasi 60 hari, termasuk masa depan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan yang dapat menjadi acuan arah kebijakan bank sentral The Fed. Data JOLTS menunjukkan jumlah lowongan kerja meningkat menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dari perkiraan 7,3 juta. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen Conference Board juga membaik pada Juni, didorong meredanya harga bahan bakar akibat perkembangan gencatan senjata AS–Iran.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada laporan ADP Employment Change yang dirilis malam ini, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan diumumkan lebih awal pada Kamis karena adanya hari libur di AS.
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari rilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar. Ini menjadi defisit pertama setelah enam tahun Indonesia mengalami surplus beruntun sejak Mei 2020.
Kondisi tersebut terjadi karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor. Impor tercatat sebesar US$24,81 miliar, sementara ekspor hanya US$23,20 miliar. Defisit ini terutama dipicu oleh sektor migas yang menyumbang minus US$3,76 miliar, khususnya dari impor minyak mentah dan hasil olahan minyak.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan impor migas sebesar 70,78 persen secara tahunan menjadi US$4,51 miliar. Sementara itu, impor nonmigas juga meningkat 14,69 persen menjadi US$20,30 miliar. Secara keseluruhan, impor tahunan terdorong kuat oleh sektor nonmigas.
Selain neraca perdagangan, inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen (year on year). Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi. Inflasi ini sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026, namun masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya, dengan potensi melemah di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.810 per dolar AS.(BY)







