Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mendorong pemerintah untuk meninjau ulang harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi setelah terjadi penurunan harga minyak mentah global. Penurunan ini dipicu meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Politisi Mufti Anam dari PDI Perjuangan menilai kondisi pasar energi dunia yang mulai stabil seharusnya juga berdampak pada harga BBM di dalam negeri. Menurutnya, ketika harga minyak global naik akibat konflik, masyarakat ikut menanggung kenaikan harga. Karena itu, saat kondisi berbalik, manfaat penurunan harga juga seharusnya dirasakan publik.
Ia menegaskan agar pemerintah tidak menunda penyesuaian harga jika memang ruang penurunan sudah terbuka. Menurutnya, kebijakan harga BBM tidak boleh hanya cepat merespons kenaikan, tetapi juga harus adil ketika harga dunia turun.
Mufti juga mengingatkan bahwa harga BBM memiliki dampak luas terhadap perekonomian masyarakat. Kenaikan biaya energi akan memengaruhi ongkos transportasi, distribusi barang, harga pangan, hingga biaya produksi pelaku usaha kecil.
Ia meminta pemerintah bersama Pertamina melakukan evaluasi secara terbuka dan transparan agar masyarakat mendapatkan kepastian harga yang sesuai dengan kondisi pasar global. Dalam pandangannya, publik tidak seharusnya menjadi pihak terakhir yang menikmati manfaat ketika situasi ekonomi membaik.
Sementara itu, harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan pada awal perdagangan sesi Asia setelah tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut juga memungkinkan dibukanya kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.
Harga minyak acuan Brent turun sekitar 4 persen ke level 83,81 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 4,7 persen menjadi 80,89 dolar AS per barel.
Sebelumnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat membuat harga minyak melonjak tajam, bahkan mendekati 120 dolar AS per barel setelah konflik dan serangan militer di wilayah tersebut mengganggu jalur distribusi energi global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini dapat berdampak signifikan terhadap harga energi internasional.(BY)







