DPR Soroti Instruksi Prabowo soal Bahasa Prancis di Sekolah

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pengajaran bahasa Prancis di sekolah. DPR pun menyoroti ada atau tidak sumber daya pengajarnya.
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pengajaran bahasa Prancis di sekolah. DPR pun menyoroti ada atau tidak sumber daya pengajarnya.

Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa, menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana pengajaran Bahasa Prancis di sekolah. Ia menilai kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan kesiapan sumber daya di tiap institusi pendidikan.

Menurut Ledia, selama ini mata pelajaran bahasa asing umumnya masuk dalam kategori muatan lokal, serupa dengan pelajaran bahasa daerah. Namun, tidak semua sekolah mampu menyediakan pengajaran tersebut karena keterbatasan tenaga pengajar maupun fasilitas pendukung.

Ia menjelaskan bahwa kondisi setiap sekolah berbeda. Ada yang memiliki guru untuk bahasa tertentu seperti Mandarin, Korea, atau Jepang, tetapi belum tentu memiliki pengajar Bahasa Prancis.

Ledia menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika sekolah didorong untuk mengenalkan Bahasa Prancis, selama tersedia tenaga pendidik yang kompeten. Tanpa dukungan tersebut, kebijakan akan sulit diterapkan secara efektif.

Lebih lanjut, ia menilai jumlah bahasa asing yang diajarkan di sekolah semestinya disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya manusia. Selain itu, sekolah dan siswa sebaiknya diberikan keleluasaan dalam menentukan pilihan pembelajaran sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Ia juga menyoroti keterbatasan yang dihadapi banyak sekolah, terutama sekolah negeri dan swasta dengan sumber daya terbatas. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika semua sekolah diwajibkan mengajarkan bahasa tertentu secara seragam.

Ledia bahkan menyinggung kemungkinan penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan dalam pembelajaran. Namun, ia mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab mengevaluasi kemampuan siswa, mulai dari pelafalan hingga tata bahasa.

Ia menambahkan bahwa tantangan utama saat ini adalah minimnya jumlah guru bahasa asing, khususnya untuk ditempatkan di wilayah terpencil atau tertinggal.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa dirinya telah menginstruksikan agar Bahasa Prancis diajarkan di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Hal itu diungkapkan saat pernyataan bersama dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Elysee, Paris.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyoroti hubungan bilateral Indonesia dan Prancis yang dinilai semakin kuat, termasuk dalam bidang pertahanan, sains, dan teknologi. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kerja sama di sektor pendidikan, salah satunya melalui pengenalan Bahasa Prancis di sekolah.(BY)