Kota Pariaman – Di tengah luka akibat bencana yang belum sepenuhnya pulih, secercah harapan mulai ditanam di tanah Desa Sintuak, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap (Huntap) bukan sekadar simbol. Tetapi penanda dimulainya babak baru bagi warga yang kehilangan tempat berteduh. Di lokasi sederhana itu, masa depan mulai dirancang. Meski bayang-bayang trauma masih terasa.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sekretaris Utama (Setama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian bersama Wali Kota (Wako) Yota Balad dan Wakil Wali Kota (Wawako) Mulyadi.
Namun di balik seremoni itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Negara hadir, tapi tidak bisa bekerja sendiri menghadapi bencana yang kian kompleks.
Bahkan, nama Emridona yang merupakan salah satu warga terdampak bencana itu disebut dengan nada haru dalam sambutan.
Ia menjadi satu dari sekian warga yang terdampak bencana hidrometeorologi di Kota Pariaman.
Kisahnya bukan sekadar data statistik, melainkan wajah nyata dari dampak perubahan cuaca ekstrem yang kian sering menghantam wilayah pesisir.
Rustian menegaskan pendekatan Multi-Helix sebagai strategi utama. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media.
“Semuanya harus bergerak bersama. Tanpa kolaborasi, penanganan bencana hanya akan menjadi reaksi sesaat, bukan solusi berkelanjutan,” ucap Rustian.
Yang membuat proyek ini mencuri perhatian adalah teknologi yang digunakan. Rumah contoh Hunian Tetap (Huntap) ini dibangun dengan material “sapa block”, yang diklaim lebih kuat, aman, dan nyaman.
Di tengah meningkatnya risiko bencana, inovasi ini diproyeksikan menjadi jawaban atas kebutuhan hunian yang tahan terhadap ancaman alam.
Lebih dari sekadar proyek lokal, pembangunan ini disebut-sebut sebagai yang pertama di Sumatera Barat dengan konsep tersebut.
Kota Pariaman seakan dijadikan laboratorium nyata. Tempat di mana gagasan diuji langsung di lapangan, dengan warga sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya.
Meski harapan mulai tumbuh, pertanyaan besar tetap menggantung. Apakah teknologi ini benar-benar mampu menjawab tantangan bencana yang semakin tak terduga? Ataukah ini hanya akan menjadi proyek percontohan yang berhenti di seremoni?
Yang pasti, bagi warga seperti Emridona, rumah ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol bangkit dari kehilangan. Sekaligus taruhan bahwa masa depan bisa dibangun lebih kuat dari masa lalu yang pernah runtuh.(ajo).








