Kota Pariaman – Satu kata, singkat tapi menghentak. “Mak Nyuss!” itulah respons spontan Supratman Andi Agtas saat menyantap hidangan khas yang disuguhkan di Rumah Dinas Wali Kota Pariaman, Sumatera Barat, Yota Balad, Selasa (31/3/2026). Bukan basa-basi pejabat, tapi reaksi jujur yang lahir dari lidah yang benar-benar dimanjakan.
Di tengah agenda resmi yang biasanya kaku, justru meja makan menjadi panggung utama. Gulai Tunjang tampil sebagai bintang di rumah dinas Wali Kota Pariaman tersebut.
Mengalahkan semua menu yang tersaji. Sekali suap, langsung menancap. Tak heran jika hidangan ini kembali mencuri perhatian setiap tamu penting yang datang ke Kota Pariaman.
“Bumbunya terasa, tidak amis, dan benar-benar beda,” ungkap Supratman Andi Agtas tanpa ragu. Pernyataan itu bukan sekadar pujian, tapi pengakuan bahwa kekuatan kuliner lokal Pariaman mampu menembus standar selera nasional, bahkan pejabat negara sekalipun.
Tak hanya Gulai Tunjang, deretan menu lain ikut unjuk gigi. Gulai Kapalo Ikan Karang Pariaman dengan kuah kental penuh rempah. Hingga ikan bakar kakap dengan sambal yang menggigit, semuanya menyatu dalam pengalaman rasa yang sulit dilupakan.
Bahkan rombongan pendamping pun kompak. Pariaman bukan hanya indah, tapi juga “berbahaya” bagi yang sedang diet.
Di balik kelezatan itu, tersimpan kekuatan tradisi. Gulai Tunjang, Pariaman bukan sekadar makanan, tapi warisan rasa. Dari kikil sapi yang dimasak lama dengan racikan rempah lengkap, santan kental, dan teknik memasak turun-temurun. Hasilnya? Tekstur kenyal lembut dengan cita rasa yang meresap hingga ke tulang.
Namun yang lebih tajam dari sekadar rasa adalah strategi di balik penyajian. Yota Balad menegaskan, seluruh hidangan berasal dari pelaku UMKM lokal. Artinya, setiap pujian yang keluar bukan hanya mengangkat nama masakan Pariaman, tapi juga membuka jalan ekonomi bagi masyarakat kecil.
Di sinilah Pariaman memainkan kartu cerdasnya. Ketika daerah lain sibuk membangun citra lewat proyek besar, kota ini justru “menyerang” lewat perut. Dan hasilnya nyata. Sekali pejabat pusat berkata “Mak Nyuss”, gaungnya bisa menjadi promosi yang tak ternilai.
Maka pertanyaannya sederhana tapi tajam: jika satu suapan saja bisa membuat Menteri terkesan, berapa banyak peluang ekonomi yang bisa lahir jika kuliner ini benar-benar dipasarkan lebih luas? Pariaman tampaknya sudah tahu jawabannya. Tinggal siapa yang siap ikut mencicipi.(mak).






