Iman, Militansi Rakyat dan Teladan Pemimpin : Tigar Pilar Daya Tahan Negara Hadapi Tekanan Global

Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag
Surautuankuprofessor @series46.21032026.

Padang – Ketika diskusi di hari idul fitri ini, begitu banyak beragam silang pendapat dan pandangan tentang hebatnya Republik Islam Iran bisa bertahan perang sudah tiga Minggu berlalu, yang sebelumnya Presiden Trump sangat se sumbar menyatakan hanya akan berakhir selama seminggu.

Lantas, menarik juga mendengar pendapat pengamat lapau yang hanya mengutip dari medsos, kita tak perlu perdebatan mazhab rakyat dan Pemerintah Iran, yang pasti ia muslim dan beragama Islam.

Judul tulisan di atas adalah akumulasi pendapat politisi, birokrasi dan akademisi yang tidak dapat disebut sebagai pengamat profesional. Mereka adalah orang tingkat pendidikan di atas sarjana, walau keahlian mereka bukan pengamat politik.

Perang modern kembali mengajarkan satu pelajaran klasik dalam sejarah peradaban. Negara tidak hanya bertahan karena kekuatan senjata. Tetapi dilandasi kekuatan jiwa rakyat dan integritas pemimpinnya.

Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat menunjukkan, kalkulasi militer yang hanya bertumpu pada teknologi itu sering tidak cukup menjelaskan daya tahan sebuah bangsa.

Banyak analis memprediksi Iran akan lumpuh dalam waktu singkat. Karena kesenjangan kekuatan ekonomi dan teknologi. Namun realitas menunjukkan, negara tersebut mampu bertahan lebih lama dari prediksi. Terlepas dari penilaian politik terhadap sistemnya.

So, setidaknya ada pelajaran penting yang bisa dibaca secara objektif. Yakni iman, militansi warga, dan keteladanan kepemimpinan dapat menjadi faktor daya tahan negara.

Iman sebagai fondasi psikologi ketahanan.
Dalam banyak peradaban, iman bukan hanya persoalan ibadah, tetapi juga energi psikologis kolektif. Bangsa yang memiliki keyakinan biasanya memiliki kemampuan bertahan lebih kuat dalam tekanan. Sebab, mereka memiliki makna di balik pengorbanan.

Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi jika kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 139).

Ayat ini menjelaskan bahwa iman melahirkan optimisme, dan optimisme melahirkan daya tahan mental. Dalam konteks negara, keyakinan kolektif dapat menjadi moral capital atau modal mental bangsa.

Militansi warga sebagai kekuatan sosial.
Militansi warga bukan berarti radikalisme atau kekerasan, tetapi komitmen sosial untuk mempertahankan nilai yang diyakini benar.

Militansi dalam arti positif adalah kesediaan masyarakat untuk tiga elemen. Yakni disiplin dalam krisis, berkorban untuk kepentingan bersama, tetap solid dalam tekanan

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang memiliki kohesi sosial kuat, biasanya lebih sulit dikalahkan dibanding negara yang masyarakatnya terpecah atau individualistik.

Militansi seperti ini tidak lahir dari propaganda, tetapi dari kepercayaan rakyat terhadap sistem dan kepemimpinan.

Keteladanan pemimpin sebagai sumber legitimasi.
Faktor ketiga yang sangat menentukan adalah keteladanan pemimpin. Pemimpin yang menjadi simbol kesederhanaan, keberanian, dan komitmen biasanya mampu membangun loyalitas rakyat tanpa paksaan.

Al-Qur’an memberikan prinsip dasar kepemimpinan melalui keteladanan Nabi:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kamu.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Kepemimpinan teladan bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal integritas pribadi. Terutama berbicara jujur, hidup tidak berlebihan berani memikul risiko, dan tidak menjauh dari penderitaan rakyat

Jika pemimpin meminta pengorbanan tetapi tidak memberi contoh, kepercayaan rakyat akan hilang. Tetapi jika pemimpin lebih dahulu berkorban, rakyat biasanya akan mengikuti.

Kombinasi yang melahirkan ketahanan negara.
Jika tiga unsur ini bertemu. Iman masyarakat, militansi sosial, keteladanan pemimpin, maka lahirlah apa yang disebut dalam ilmu politik sebagai national resilience (ketahanan nasional sejati).

Negara yang memiliki ketahanan seperti ini mungkin mengalami tekanan, tetapi tidak mudah runtuh. Kenapa? sebab yang dipertahankan bukan hanya wilayah. Tetapi harga diri dan keyakinan kolektif.

Pelajaran bagi bangsa Indonesia.
Pelajaran dari berbagai konflik dunia sebenarnya sangat relevan bagi Indonesia. Kekuatan bangsa ini tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada: integritas elite,
kepercayaan publik, dan ketahanan moral masyarakat.

Jika bangsa ingin kuat, maka yang harus diperkuat bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur moral.

Indonesia akan sangat kuat jika memiliki: pemimpin yang memberi teladan, dan rakyat yang memiliki kesadaran kebangsaan.

Inilah yang dalam perspektif nilai Islam dapat disebut sebagai jihad peradaban, yaitu perjuangan membangun bangsa melalui akhlak, ilmu, dan tanggung jawab sosial.

Penutup.
Perang Iran memberi satu pelajaran penting bagi dunia: bahwa kekuatan terbesar sebuah negara bukan hanya pada anggaran militernya, tetapi pada : iman yang memberi makna keberanian yang memberi daya juang, keteladanan yang memberi kepercayaan

Jika iman melahirkan keyakinan, keyakinan melahirkan keberanian, keberanian melahirkan militansi, maka keteladanan pemimpin akan melahirkan kepercayaan rakyat.

Dan ketika rakyat percaya kepada pemimpinnya, di situlah lahir kekuatan negara yang sebenarnya.
Karena pada akhirnya, Negara kuat bukan karena takut kepada musuhnya, tetapi karena rakyat percaya kepada pemimpinnya.

Dan sejarah selalu membuktikan. Bangsa yang memiliki iman, militansi moral, dan keteladanan kepemimpinan tidak mudah dikalahkan, bahkan ketika menghadapi kekuatan besar dunia.(ds).