Tertipu, Nikmat Dilalaikan

Oleh ; H.Suhendrizal, MA

Alhamdulillah begitu banyak nikmat kepada kita, nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. Sungguh nikmat yang begitu melimpah, sebaiknya kita pergunakan dengan secara bijak sesuai aturan yang disyari’atkan Islam.

Bahkan, Allah telah menegaskan masalah nikmat yang telah tercurahkan kepada hambaNya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an ;

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl: 18).

Jika seorang hamba atau umat manusia ingin menghitung nikmat yang telah diberikan Allah, maka seorang hamba atau umat manusia tidak akan sanggup menghitungnya. Ini adalah sebuah pekerjaan yang amat sulit. 

Bagaimana tidak. Semua nikmat yang telah diberikan Allah kepada hambaNya, akan diminta pertanggungan jawabannya oleh Allah kemudian kelak. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah berpindah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai umurnya, dimanakah ia habiskan; ilmunya, dimanakah ia amalkan; hartanya, bagaimana cara ia mendapatkannya dan ia infakkan; dan mengenai badannya, di manakah usangnya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih).

Hadis menjelaskan kepada kita bahwa umur, ilmu, harta, badan kita merupakan nikmat dari Allah SWT, dan keempat nikmat tersebut, akan diminta pertanggungjawaban di hari kiamat.

Pada saat ini, umur umat manusia hanya 60-70 tahun, lebih pendek dari umat umat nabi Nuh dan nabi Musa yang berumur sampai 500 hingga 1000 tahun. Nikmat umur ini adalah nikmat yang diberikan Allah kepada umat manusia.

Ada manusia yang diberi umur panjang, ada juga yang diberi umur pendek. Kita diberi Allah masa muda, masa dewasa dan masa tua.

Pada masa muda, kita diberi kesempatan oleh Allah untuk mempersiapkan diri dalam pendidikan, pengalaman, keterampilan. Juga, menyiapkan bekal untuk masa tua, agar kita tidak jadi beban bagi orang lain. 

Disisi lain, Allah SWT menyuruh kita untuk mempersiapkan bekal untuk kampung akhirat, yaitu bekal taqwa. 

“Berbekalah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah, 2: 197). 

Mensyukuri nikmat umur, mestinya kita mulai dari hati. Yaitu meyakini dengan sepenuh hati, bahwa kita diberi umur oleh Allah SWT yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya.

Kenapa ..? Karena, dalam umur kita tersebut itu ada penggunaan hati, fikir, ilmu, dan harta, nikmat keluarga, nikmat bekerja, nikmat bernafas dan sebagainya. 

Untuk mensyukurinya, kita mesti mengarahkan hati, pikiran, ilmu, harta, dan jasadnya menuju kepada Allah SWT.

Di antara sekian banyak nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia, ada 2 (dua) nikmat yang sering terlalaikan oleh manusia. Bahkan, manusia sering tertipu olehnya. Yakni nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Menurut Ibnu al-Jauziyah, bahwa terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang. Karena, sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat.

Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).

Lebih lanjut Ibnu al-Jauziyah mengatakan, Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. 

Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu.

Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.

Ibnu Baththol mengatakan, tidaklah dikatakan seseorang memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Hal ini menunjukkan, bahwa apabila seseorang memiliki “kesempatan atau peluang”, hendaklah ia bersemangat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan.

Tanda seseorang bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari cara syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu dan mendapatkan azab yang sangat pedih. Wana ‘uzhubillah minzalik.