Sampit, fajarharapan.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tengah mengusulkan penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah strategis untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meningkat di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa usulan tersebut diajukan menyusul penetapan status siaga bencana karhutla yang diberlakukan mulai 1 Agustus hingga 29 Oktober 2025. Penetapan status ini merupakan hasil keputusan bersama dalam rapat koordinasi lintas instansi yang digelar pada Kamis (31/7/2025).
“Setelah status siaga ini ditetapkan, langkah berikutnya adalah mengajukan pelaksanaan OMC. Proposalnya nanti diteruskan oleh pihak provinsi ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” ujar Multazam saat ditemui di Sampit, Minggu (3/8/2025).
Kotim kini menjadi daerah kelima di Kalimantan Tengah yang menyatakan status siaga karhutla. Sebelumnya, status serupa telah ditetapkan di wilayah Kota Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas, dan di tingkat provinsi. Penetapan ini menandakan meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman karhutla yang meluas di musim kemarau ini.
Multazam menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC hanya dapat dilakukan apabila provinsi telah menyatakan status siaga bencana dan terdapat dukungan dari kondisi atmosfer, seperti ketersediaan awan yang dinilai cukup oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selain itu, pelaksanaan hujan buatan ini juga berskala provinsi, bukan kabupaten.
“Kita berharap apabila OMC jadi dilaksanakan di Kalimantan Tengah, maka wilayah Kotim juga bisa turut merasakan manfaatnya. Setidaknya membantu mengurangi potensi kekeringan dan meminimalkan risiko kebakaran,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Multazam, kondisi tanah di Kotim sudah menunjukkan tanda-tanda kritis. Permukaan air tanah mengalami penurunan drastis, bahkan mencapai minus 40 persen lebih. Situasi ini sangat rentan terhadap terjadinya kebakaran, terutama di wilayah lahan gambut yang memiliki karakteristik mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
“Lahan gambut memerlukan penanganan yang lebih serius, karena api bisa menjalar di bawah permukaan tanah dan sulit terdeteksi. Ini berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah dipadamkan,” jelasnya.
Teknologi hujan buatan melalui OMC diharapkan bisa menjadi solusi untuk membasahi kembali kawasan rawan kebakaran, khususnya menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi sepanjang Agustus 2025. OMC dianggap sebagai upaya preventif yang efektif untuk menjaga ekosistem dan melindungi masyarakat dari dampak buruk kebakaran.
Dalam catatan BPBD Kotim, sejak pertengahan Juli atau saat musim kemarau mulai menunjukkan gejalanya, telah tercatat setidaknya 10 kejadian karhutla di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tren kebakaran mengalami peningkatan dan membutuhkan intervensi yang lebih komprehensif.
Di samping itu, BPBD juga aktif dalam penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Baru-baru ini, mereka telah mendistribusikan sekitar 12.000 liter air ke kawasan Bagendang Permai sebagai langkah darurat mengatasi keterbatasan air bersih akibat musim kering.
Usulan pelaksanaan OMC menjadi salah satu bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana di musim kemarau. Upaya ini diharapkan mendapat respon cepat dari pemerintah provinsi dan pusat, mengingat kondisi iklim dan lingkungan yang semakin ekstrem.
Multazam berharap seluruh pihak dapat bekerja sama dan mendukung langkah-langkah pencegahan yang sedang diupayakan. Menurutnya, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada koordinasi yang solid antara pemerintah, aparat, dan masyarakat.(Audy)







