Di tengah tiap-tiap hujan lebat, kisah cemas dan kekuatiran kembali menyergap warga Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Setiap tetes air turun, ruas jalan seolah menjadi sungai baru. Masyarakat lelah dibuatnya. Namun, lebih dari sekadar air yang menggenang, peristiwa ini menjadi sosok menakutkan yang tak kunjung berlalu, menghantui setiap sudut rumah mereka.
Saat musim hujan melanda, tak ada yang bisa memprediksi kapan air akan menghampiri dengan ganasnya. Mereka hidup dalam ketidakpastian, terjebak dalam siklus tanpa akhir dari banjir yang mengancam merusak segala sesuatu yang mereka bangun dengan susah payah. Kekuatiran akan banjir yang menerobos rumah-rumah mereka menjadi seperti bayangan yang tak pernah lenyap, mempengaruhi setiap langkah dan napas yang mereka ambil.
Tidaklah mengherankan jika ketegangan terus memuncak setiap kali awan mendung menggelayuti langit. Sudah menjadi rutinitas yang menyedihkan bagi mereka, yang tak lagi hanya melawan air, tetapi juga ketakutan dan kekuatiran yang tak kunjung reda. Meskipun demikian, semangat perlawanan terus berkobar di hati setiap warga, menolak untuk menyerah pada ancaman yang mengintai di luar pintu mereka, walaupun badan ringkih setiap menyibak air dari balik pintu.
Dalam menghadapi tantangan yang terus menghantui, warga Kota Sungai Penuh menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Mereka saling bersatu, berbagi cerita, dan mencari solusi bersama untuk menghadapi musibah yang terus menerpa. Meskipun badai terus menghadang, namun semangat persatuan dan kebersamaan mereka tidak pernah luntur.
Kisah mereka bukanlah sekadar tentang banjir yang menggenangi jalan-jalan atau merendam rumah-rumah. Ini adalah kisah tentang kegigihan, persatuan, dan harapan yang terus berkobar di tengah kegelapan yang mengancam. Meskipun terjebak dalam pusaran kesulitan, warga Kota Sungai Penuh tetap teguh berdiri, siap menghadapi segala tantangan yang datang, dan menunjukkan bahwa cahaya akan selalu bersinar di ujung terowongan gelap.
Di balik setiap musibah banjir yang melanda, ternyata tersimpan cerita yang jauh lebih kompleks daripada sekadar hujan deras. Mengintip ke bawah, kita akan menemukan drainase yang seharusnya menjadi solusi, namun malah menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Sisa material pembangunan yang dibiarkan terbengkalai menjadi saksi bisu atas kelalaian yang terus berulang tanpa ada teguran.
Tidak hanya itu, perilaku tidak bertanggung jawab dari sebagian masyarakat yang sembarangan membuang sampah ke dalam selokan turut menyumbang pada kerawanan banjir yang tak kunjung reda. Dengan begitu, sudah jelas bahwa banjir yang menggenangi jalan-jalan dan mengancam bilik-bilik rumah warga bukanlah semata-mata ulah hujan, tetapi juga akumulasi dari berbagai faktor yang saling terkait.
Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan peristiwa ini terus berulang, membiarkan masyarakat menanggung beban tanpa solusi yang nyata? Janganlah hanya saat masa kampanye Pilkada/Pileg para pemimpin menggebu-gebu menawarkan janji-janji manis untuk menyelesaikan masalah banjir. Namun, ketika berkuasa, janji-janji itu lenyap tanpa bekas, seolah kekuatan mereka sudah terkuras habis.
Pemerintah berada di bawah sorotan saat masyarakat menyerukan pertolongan dalam menghadapi banjir. Harapan besar diletakkan pada penguasa untuk tidak hanya bersikap gagah saat kampanye, tetapi juga tegas dan responsif ketika dihadapkan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Jangan melimpir segeralah bertindak, tunaikanlah janji yang pernah disampaikan dulu, agar masyarakat hidup aman, nyaman dalam berusaha.
Maka, tiba saatnya untuk bersatu dan menghadapi masalah ini secara bersama-sama. Bukan lagi waktu untuk menyalahkan satu pihak saja, tetapi untuk mencari solusi yang dapat mengatasi akar permasalahan. Hanya dengan langkah bersama, kita bisa melangkah menuju masa depan yang lebih cerah, di mana banjir bukan lagi menjadi momok yang menakutkan bagi warga Kota Sungai Penuh. Semoga. (Mardizal Sumara)






