Erick Thohir Soroti Mangrove Sebagai Pemangkas Perubahan Iklim Global

Menteri BUMN Erick Thohir.
Menteri BUMN Erick Thohir

Jakarta Menko Marves Erick Thohir Menyoroti Pentingnya Mangrove dalam Pengendalian Perubahan Iklim

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim Erick Thohir menegaskan peran penting mangrove dalam upaya Indonesia untuk mengelola dan melestarikan lingkungan, khususnya dalam pengendalian perubahan iklim global.

Dalam sesi COP28 berjudul “Delivering Global Action On Mangrove Restoration And Protection” di Dubai, UEA, Erick Thohir menyatakan bahwa mangrove memberikan sejumlah manfaat, termasuk perlindungan pantai, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan manfaat ekonomi melalui ekowisata serta penetapan harga karbon.

Erick menekankan bahwa ekosistem mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon dengan kepadatan yang melebihi hutan tropis, menarik perhatian dunia. Di Indonesia, ekosistem mangrove diperkirakan mampu menangkap 3,3 giga ton CO2, setara dengan 3,36 juta hektare kawasan mangrove dengan potensi valuasi ekonomi mencapai 16,5 juta dolar AS.

Sejak tahun 2020, Indonesia telah menanam lebih dari 265 juta mangrove, dan Menko Erick menyatakan bahwa inovasi dan pendanaan berkelanjutan menjadi kunci penting. Dalam hal investasi, minat masyarakat terhadap ekosistem karbon biru diperkirakan dapat mencapai 10 juta dolar AS dari korporasi dan investor.

Menko Erick menambahkan bahwa sektor swasta dapat berperan dalam program restorasi dan konservasi mangrove di seluruh dunia. Pada tahun ini, Indonesia berkomitmen untuk mempercepat restorasi 75 ribu hektare lahan mangrove dan konservasi seluas 400 ribu hektare yang diharapkan selesai pada 2024.

Erick Thohir juga menekankan bahwa bisnis yang produktif dan berkelanjutan memiliki peran vital dalam menciptakan mekanisme pasar jangka panjang untuk membuktikan bahwa mangrove lebih bernilai saat hidup dibandingkan saat rusak.

Dalam pertemuan dengan para peserta acara, Menko Erick menyampaikan bahwa Indonesia telah berpengalaman dalam model bisnis ekosistem mangrove, seperti karbon biru, budi daya perikanan yang berkelanjutan, dan pengembangan perikanan yang menghasilkan keuntungan finansial sambil membangun masyarakat pesisir yang tangguh.

Sebagai contoh, Indonesia telah mendirikan 30 pusat pembibitan untuk mendukung restorasi mangrove, termasuk G20 Mangrove Showcase di Bali. Erick Thohir menyampaikan harapannya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak demi memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi dunia, baik saat ini maupun di masa depan, melalui pengelolaan mangrove.(BY)