Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, kepedulian terhadap sesama menghadapi tantangan yang semakin besar. Kemudahan mengakses informasi membuat kita dapat menyaksikan kesulitan orang lain kapan saja. Namun, rasa simpati sering kali tidak berlanjut menjadi tindakan nyata. Kesibukan, kepentingan pribadi, dan tekanan ekonomi perlahan mengurangi ruang bagi tumbuhnya solidaritas sosial.
Padahal, solidaritas merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sosiolog Émile Durkheim (1893) menjelaskan bahwa ikatan sosial terbentuk melalui kesamaan nilai maupun ketergantungan antarmanusia. Dalam kehidupan modern, setiap orang membutuhkan kontribusi orang lain. Sayangnya, hubungan yang semakin erat dalam aktivitas ekonomi dan pekerjaan tidak selalu diiringi kepedulian terhadap kesejahteraan bersama.
Melemahnya solidaritas tidak semata-mata disebabkan oleh sikap individualistis. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan keterbatasan waktu membuat sebagian masyarakat harus memprioritaskan kebutuhan keluarganya. Karena itu, membangun kepedulian membutuhkan perubahan sikap sekaligus dukungan lingkungan sosial yang adil agar setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi membantu sesama.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 mencapai 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Pada periode yang sama, rasio Gini tercatat sebesar 0,363. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kesejahteraan dan ketimpangan masih membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.
Di sisi lain, semangat berbagi masyarakat Indonesia masih tergolong kuat. World Giving Report 2025 mencatat bahwa 84 persen responden Indonesia memberikan sumbangan, 60 persen membantu secara langsung, dan 30 persen mengikuti kegiatan sukarela. Meski demikian, kepedulian seharusnya tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi berkembang menjadi tindakan berkelanjutan untuk membantu mengatasi persoalan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemikiran Robert Putnam (2000) tentang modal sosial menekankan pentingnya kepercayaan, jaringan, dan kerja sama dalam membangun masyarakat yang kuat. Solidaritas juga harus melampaui batas keluarga, pertemanan, agama, maupun latar belakang sosial. Kelompok rentan, pekerja informal, penyandang disabilitas, dan masyarakat di wilayah pinggiran perlu memperoleh perhatian serta kesempatan yang setara dalam kehidupan bermasyarakat.
Teknologi digital dapat menjadi sarana untuk memperluas kepedulian, misalnya melalui penggalangan dana dan penyebaran informasi kemanusiaan. Namun, perhatian masyarakat sering kali lebih tertuju pada peristiwa yang viral, sementara penderitaan yang tidak mendapat sorotan justru terabaikan. Oleh karena itu, kepedulian perlu diwujudkan secara konsisten agar tidak hanya menjadi reaksi sesaat terhadap suatu peristiwa.
Penguatan solidaritas membutuhkan peran berbagai pihak. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi kelompok rentan dan memperluas akses terhadap layanan dasar. Dunia usaha harus menghargai hak serta martabat pekerja. Sementara itu, keluarga dan lembaga pendidikan perlu menanamkan empati, semangat gotong royong, dan sikap menghargai perbedaan melalui kegiatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan solidaritas tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi perlu diterapkan dalam tindakan. Anak-anak dan mahasiswa dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial, kerja sama lintas kelompok, serta aktivitas yang membantu mereka memahami persoalan masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, kepedulian dapat tumbuh menjadi kebiasaan, sedangkan rasa tanggung jawab terhadap sesama semakin kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan seseorang tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kontribusi orang lain. Karena itu, kemajuan tidak cukup diukur melalui pencapaian individu atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat untuk saling mendukung.
Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang tidak membiarkan warganya menghadapi kesulitan sendirian. Solidaritas harus menjadi kebiasaan, tercermin dalam kebijakan, dan menjadi bagian dari ukuran keberhasilan pembangunan. Dengan menjaga kepedulian, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga merawat nilai kemanusiaan sebagai dasar kehidupan bersama.
Oleh: Gian Shaera
Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang







