Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang Garuda naik 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke posisi Rp17.922 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terkena serangan proyektil di perairan dekat Oman. Insiden tersebut membuat badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa menghentikan sementara program evakuasi sukarela bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters, dua pejabat Amerika Serikat menyebut kapal tersebut ditembaki oleh Iran ketika berupaya melewati Selat Hormuz. Pemerintah Iran juga mengingatkan bahwa keamanan kapal yang melintasi jalur di luar rute resmi Selat Hormuz tidak dapat dijamin.
Di sisi lain, data perdagangan menunjukkan volume pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz mengalami peningkatan sepanjang pekan ini. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada Februari lalu. Meski jalur pelayaran kembali dibuka usai kesepakatan gencatan senjata, pelaku pasar masih mengkhawatirkan keberlangsungan akses di selat strategis tersebut.
Walaupun aktivitas pengiriman meningkat, jumlah kapal yang melintas masih berada di bawah rata-rata sebelum konflik dimulai, yakni sekitar 125 kapal per hari. Kekhawatiran terhadap pasokan energi global juga bertambah setelah Venezuela diguncang gempa bumi pada Kamis.
Dari Amerika Serikat, data inflasi kembali menjadi perhatian pasar. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) naik menjadi 3,4 persen secara tahunan pada Mei, dibandingkan 3,3 persen pada April. Secara bulanan, inflasi inti tercatat stabil di level 0,3 persen.
Sementara itu, inflasi PCE utama meningkat menjadi 4,1 persen secara tahunan dari sebelumnya 3,8 persen. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak April dan Oktober 2023, sehingga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Mengacu pada indikator CME FedWatch, data inflasi terbaru membuat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sedikit menurun. Sebaliknya, ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini mengalami peningkatan.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari langkah pemerintah yang mengevaluasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjaga kesehatan fiskal. Pagu anggaran Badan Gizi Nasional dalam APBN 2026 sebelumnya dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.
Dalam penyesuaian terbaru, nilai anggaran tersebut kembali diturunkan menjadi sekitar Rp228,38 triliun. Pemerintah bahkan masih membuka peluang penghematan tambahan hingga Rp50 triliun sebagai langkah antisipasi terhadap risiko ekonomi global, menjaga defisit anggaran, serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan program.
Sementara itu, Bank Indonesia terus memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi gejolak pasar sekaligus menahan tekanan terhadap rupiah yang sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut, BI dinilai masih memiliki opsi menaikkan suku bunga acuan, meski dalam dua bulan terakhir bank sentral telah meningkatkan suku bunga sebesar 100 basis poin. Selain kebijakan moneter, pasar juga membutuhkan kepastian bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama melalui koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal dan moneter.
Bank Indonesia juga diharapkan terus menjaga komunikasi dengan pelaku pasar melalui penyampaian arah kebijakan yang konsisten, kecukupan cadangan devisa, serta kesiapan berbagai instrumen stabilisasi. Langkah tersebut penting untuk memastikan pelemahan rupiah tidak memicu lonjakan inflasi maupun mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan potensi menguat di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.960 per dolar AS. Dalam jangka waktu sepekan, nilai tukar diperkirakan berada pada rentang Rp17.880 hingga Rp18.100 per dolar AS.(BY)







