Beras Harus Dicuci Berapa Kali? Ini Penjelasan Ilmiah dan Faktanya

Tak banyak orang yang tahu betul soal berapa kali beras harus dicuci sebelum dimasak.
Tak banyak orang yang tahu betul soal berapa kali beras harus dicuci sebelum dimasak.

Jakarta – Kebiasaan mencuci beras sebelum dimasak sudah menjadi rutinitas yang hampir dilakukan di banyak rumah tangga Indonesia. Banyak orang bahkan merasa kurang lengkap jika beras langsung dimasak tanpa proses pembilasan terlebih dahulu.

Sebagian orang memiliki standar sendiri, seperti mencuci dua hingga lima kali hingga air rendamannya tampak jernih. Anggapan umum yang berkembang adalah semakin sering dicuci, maka beras akan semakin bersih dan sehat.

Namun, apakah kebiasaan tersebut memang paling tepat?

Tidak ada aturan baku jumlah pencucian

Berdasarkan sejumlah studi di bidang ilmu pangan yang tercantum dalam publikasi National Center for Biotechnology Information, tidak ditemukan standar pasti mengenai berapa kali beras harus dicuci. Bahkan, mencuci beras secara berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan.

Secara umum, mencuci beras memang diperbolehkan untuk menghilangkan debu, kotoran halus, serta sisa pati di permukaan agar nasi tidak terlalu lengket. Namun, proses ini biasanya cukup dilakukan satu hingga dua kali saja.

Dampak pencucian beras berulang

Pencucian memang dapat mengurangi sebagian residu di permukaan beras, termasuk sisa pestisida dalam jumlah kecil. Tetapi di sisi lain, proses ini juga dapat mengurangi kandungan mineral penting seperti magnesium, kalium, dan fosfor.

Artinya, semakin sering beras dibilas, bukan hanya kotoran yang hilang, tetapi sebagian nutrisi alami juga ikut terbuang.

Banyak orang membilas beras hingga air cucian benar-benar bening. Padahal, kekeruhan tersebut berasal dari pati alami beras yang justru berperan dalam tekstur nasi. Jika terlalu banyak pati hilang, hasil nasi bisa menjadi berbeda dari segi tekstur dan kandungan gizi.

Karena itu, cukup mencuci sampai air terlihat lebih bersih tanpa harus benar-benar jernih sepenuhnya.

Efektivitas terhadap arsenik

Upaya mencuci beras untuk mengurangi kandungan arsenik ternyata tidak terlalu signifikan. Menurut Food and Drug Administration, pembilasan hanya memberikan dampak kecil terhadap penurunan kadar arsenik pada nasi yang sudah dimasak.

Metode yang lebih efektif adalah memasak beras dengan air berlebih lalu membuang sisa airnya. Cara ini dapat menurunkan kadar arsenik sekitar 40–60 persen.

Namun, metode tersebut juga memiliki kekurangan karena dapat mengurangi kandungan nutrisi penting seperti folat, zat besi, niasin, dan tiamin hingga sekitar 50–70 persen. Dengan kata lain, ada kompromi antara pengurangan zat berbahaya dan hilangnya nutrisi.

Beras fortifikasi sebaiknya tidak dicuci

Hal penting lain yang sering terabaikan adalah jenis beras tertentu tidak dianjurkan untuk dicuci, terutama beras fortifikasi atau enriched rice yang sudah diperkaya vitamin dan mineral.

Pada jenis ini, proses pencucian justru dapat menghilangkan nutrisi tambahan yang sudah ditambahkan. Di beberapa negara, bahkan terdapat anjuran “do not rinse” pada kemasan produk tersebut.

Panduan sederhana mencuci beras

Secara umum, berikut cara yang bisa diterapkan di rumah:

Beras biasa: cukup bilas 1–2 kali hingga kotoran permukaan hilang, tanpa perlu menunggu air benar-benar bening.
Beras fortifikasi: ikuti petunjuk pada kemasan, dan jangan dicuci jika memang dilarang.
Jika ingin menurunkan arsenik: gunakan metode memasak dengan air lebih banyak, meski harus siap dengan berkurangnya sebagian nutrisi.
Kesimpulan

Mencuci beras bukan sekadar soal kebiasaan atau jumlah bilasan, tetapi lebih kepada memahami tujuan di baliknya. Proses ini memang membantu menjaga kebersihan dan memengaruhi tekstur nasi, namun jika dilakukan berlebihan, manfaatnya bisa berkurang karena sebagian zat gizi ikut hilang.(BY)