Padang  

Pemasangan Girder Flyover Sitinjau Lauik Capai Tahap Awal, Proyek Tunjukkan Kemajuan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Padang – Proyek pembangunan Flyover Sitinjau Lauik terus mengalami perkembangan yang menggembirakan. Salah satu pencapaian penting terbaru adalah berhasilnya pemasangan girder pertama pada Jembatan 1.

Dalam keterangan resminya, PT Hutama Karya (Persero) menjelaskan bahwa pemasangan girder awal ini menjadi tahap krusial yang menandai dimulainya percepatan pembangunan struktur jembatan yang lebih kuat dan aman.

Sepanjang April 2026, total 18 girder telah berhasil dipasang pada tiga bentang jembatan secara bertahap. Meski sempat menghadapi kendala cuaca, pekerjaan tetap dilanjutkan dengan mengutamakan standar keselamatan serta mutu konstruksi.

Rinciannya, pada 9 April 2026 dilakukan pemasangan 6 girder di Bentang P3-A2. Kemudian pada 14 dan 16 April 2026, 6 girder dipasang di Bentang P2-P3. Selanjutnya pada 17 dan 18 April 2026, 6 girder lainnya dipasang di Bentang P1-P2.

Hingga 25 April 2026, progres pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 17,11 persen, dengan target pemasangan girder di bulan April berhasil diselesaikan 100 persen sesuai rencana.

Melalui kerja sama antara Hutama Karya, Badan Usaha Pelaksana HPSL, dan PU DJBM, proyek ini menjadi salah satu skema KPBU yang ditangani Hutama Karya. Pihak perusahaan menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk meningkatkan konektivitas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Sumatera Barat.

Sebelumnya diketahui, proyek Flyover Sitinjau Lauik di Kota Padang, Sumatera Barat ini memiliki nilai investasi sekitar Rp2,79 hingga Rp2,8 triliun.

Pembangunan dilakukan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) oleh konsorsium PT Hutama Karya (Persero) bersama PT Hutama Karya Infrastruktur.

Tahap awal proyek ini mencakup pembangunan jembatan dan jalan sepanjang kurang lebih 2,78 hingga 2,8 kilometer.

Flyover ini dirancang untuk memperbaiki kondisi geometrik jalan di kawasan tanjakan Sitinjau Lauik yang dikenal curam serta kerap menimbulkan antrean panjang kendaraan logistik. Selama ini, sistem buka tutup jalan juga sering terjadi akibat kecelakaan maupun longsor saat curah hujan tinggi.(des*)