Bantuan APBN Mengalir ke TK Durian Ajuang, Harapan Cerdaskan Anak Bangsa di Pedesaan

Padang Pariaman – Air mata harapan itu akhirnya menemukan jalannya. Setelah bertahun-tahun menumpang di bangunan sederhana, Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (SPS) Durian Ajuang di Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Padang Pariaman, Sumatera Barat, kini bersiap memiliki rumah sendiri. Tahun 2026 menjadi titik balik, saat bantuan revitalisasi senilai Rp825.946.000 digelontorkan.

Namun di balik angka ratusan juta rupiah itu, terselip kisah panjang keterbatasan. Anak-anak yang seharusnya belajar di ruang layak. Selama ini justru menimba ilmu di “rumah senyum” milik warga bernama Rosnami.

Setiap tahun, biaya sewa Rp2 juta harus ditanggung. Ini sebuah potret getir pendidikan di pelosok yang sering luput dari sorotan.

Ketua Pengelola SPS Durian Ajung, Bay Kati, Minggu (26/4/2026) menyebut bantuan tersebut berasal dari APBN melalui program revitalisasi satuan pendidikan di bawah Direktorat PAUD, Ditjen PAUD Dikdasmen, Kementerian Pendidikan.

Proyek ini dikerjakan secara swakelola, menjadi taruhan besar bagi masyarakat setempat untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengelola kepercayaan negara.

Tak sekadar membangun, proyek ini menghadirkan perubahan drastis. Tiga ruang belajar (rombel) bertingkat dua akan berdiri, lengkap dengan meja, kursi, hingga mobiler kepala sekolah dan guru.

Fasilitas penunjang seperti toilet siswa dan guru serta pagar keliling ikut dibangun, menghadirkan standar baru bagi pendidikan usia dini di daerah tersebut.

Ironisnya, sebelum bantuan ini datang, musibah justru lebih dulu menyapa. Banjir besar yang melanda Sumatera Barat pada akhir 2025 ikut menghantam kondisi sekolah ini.

Situasi itu memicu perhatian pemerintah daerah, bahkan Ketua Pembina HIMPAUDI Padang Pariaman, Hj. Nita John Kenedy Azis, telah dua kali turun langsung meninjau lokasi.

Kini, di atas tanah hibah yang disiapkan masyarakat, bangunan baru mulai berdiri dengan struktur lebih kokoh. Lantai keramik, atap baja ringan, serta pintu yang dirancang tahan lama.

Semua dirancang bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk masa depan generasi yang lebih layak.

Pekerjaan ditargetkan rampung dalam 120 hari kalender. Jika tak ada hambatan, tahun ajaran 2026/2027 akan menjadi momen bersejarah: tujuh guru dan sekitar 60 anak didik akhirnya belajar di gedung milik sendiri.

Pertanyaannya, apakah ini benar-benar awal kebangkitan pendidikan di pelosok, atau hanya sekadar proyek yang megah di atas kertas?(mak).