Kota Pariaman – Ledakan makna justru terasa di balik suasana hangat Silaturrahim Syawal 1447 H/2026 M di Panti Aisyiyah Taratak, Kota Pariaman, Sumatera Barat, pada Minggu (12/4/2026).
Di tengah senyum dan saling maaf, terselip pesan keras. Syawal tidak boleh dibiarkan menjadi rutinitas kosong tanpa arah perubahan.
Ajakan itu datang dari Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Elfis Candra. Ia tidak sekadar hadir, ia menggugah.
Muhammadiyah dan Aisyiyah, menurutnya, harus keluar dari zona nyaman dan tampil sebagai kekuatan nyata dalam membangun kota.
“Bersama, kita bisa melakukan hal besar,” tegasnya. Bukan basa-basi seremonial, melainkan peringatan bahwa energi kolektif umat adalah kekuatan yang sering diabaikan, bahkan oleh mereka yang memilikinya.
Ramadhan, kata Elfis, telah selesai sebagai proses. Namun Syawal adalah ujian sesungguhnya. Apakah nilai takwa hanya berhenti di sajadah, atau berani turun ke realitas sosial yang penuh tantangan. Itulah pertanyaan yang menggantung di ruang kesadaran publik.
Ia mengingatkan, silaturrahim tanpa aksi hanya akan menjadi tradisi yang kehilangan ruh. Padahal, tema “Tebarkan Maaf, Sucikan Hati dan Bertumbuh Dalam Kebersamaan” seharusnya menjadi bahan bakar untuk menyatukan langkah, bukan sekadar slogan yang cepat dilupakan.
Di sisi lain, arah pembangunan Kota Pariaman disebut sedang berada di titik krusial. Harapan untuk menjadi kota yang lebih maju, hebat, dan terdepan bukan mimpi kosong. Tetapi membutuhkan keberanian kolektif, termasuk dari organisasi keagamaan yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat.
Program keagamaan seperti Pariaman RISALAH, Satu Keluarga Satu Hafiz, hingga gerakan Kembali ke Surau digadang sebagai fondasi moral.
Namun Elfis seolah memberi sinyal. Program tanpa keterlibatan aktif masyarakat hanya akan menjadi dokumen tanpa denyut kehidupan.
Fakta berbicara, 450 anak yatim dan piatu telah disantuni dari zakat ASN pada akhir Ramadhan lalu. Sebuah langkah yang menyentuh, tetapi sekaligus menjadi pengingat. Bahwa masih banyak ruang yang harus diisi, masih banyak luka sosial yang belum tersentuh.
Acara pun ditutup dengan tausiyah Ustadz Suprizen yang menegaskan kembali makna Syawal sebagai momentum pembersihan hati.
Namun di luar itu, pesan yang tersisa jauh lebih tajam. Jika kebersamaan hanya berhenti di meja makan dan seremoni, maka perubahan akan tetap menjadi wacana, bukan kenyataan.(mak).






