Jakarta, fajarharapan.id – Harga minyak mentah global mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu, 1 April 2026, seiring meningkatnya spekulasi pasar terhadap arah kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang membuka peluang penarikan pasukan dalam waktu dekat menjadi salah satu pemicu utama pelemahan harga.
Berdasarkan laporan pasar energi internasional, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,24 persen atau setara USD 1,26, sehingga ditutup di level USD 100,12 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Juni 2026 mengalami penurunan lebih tajam, yakni 2,82 persen atau USD 2,93 ke posisi USD 101,04 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah reli tajam yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak lebih dari 60 persen sepanjang Maret—kenaikan bulanan tertinggi sejak 1988. Bahkan, sehari sebelumnya, kontrak WTI sempat ditutup menguat hingga 5 persen di level USD 118,35 per barel.
Sentimen pasar berubah drastis usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa operasi militer AS terhadap Iran kemungkinan akan dihentikan dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ia menyebut keberadaan pasukan AS di kawasan tersebut tidak lagi memiliki urgensi strategis.
“Kami akan segera pergi. Tidak ada alasan bagi kami untuk terus berada di sana,” ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih.
Selain itu, Trump juga menepis kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ia menilai situasi di Iran telah berubah, sehingga tidak diperlukan kesepakatan formal untuk mengakhiri ketegangan.
Di sisi lain, Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt mengumumkan bahwa Trump akan menyampaikan pidato nasional guna memberikan perkembangan terbaru terkait situasi Iran. Pernyataan ini semakin membuat pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan selanjutnya.
Konflik antara AS dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. Salah satu dampak paling krusial adalah terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya mengalirkan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia.
Penutupan sebagian jalur tersebut oleh Iran telah menciptakan kekhawatiran serius di pasar energi internasional. Namun, prospek meredanya konflik justru memberikan tekanan balik terhadap harga minyak karena potensi pemulihan pasokan.
Meski demikian, eskalasi militer belum sepenuhnya mereda. Garda Revolusi Iran mengancam akan memperluas target serangan, termasuk terhadap perusahaan-perusahaan asal AS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Beberapa nama besar seperti Google, Microsoft, Apple, hingga Boeing disebut masuk dalam daftar potensi target.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait, di mana drone menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar dan memicu kebakaran besar, menambah ketegangan di kawasan.
Analis geopolitik menilai langkah Trump berada dalam posisi dilematis. Penarikan pasukan dalam waktu dekat berpotensi ditafsirkan sebagai sinyal kelemahan di tengah konflik yang belum sepenuhnya terkendali.
Sementara itu, dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada proses negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, meskipun komunikasi terbatas tetap berlangsung melalui jalur tidak langsung.
Ia menekankan bahwa pertukaran pesan yang terjadi bukanlah bentuk diplomasi formal, melainkan komunikasi strategis melalui perantara di kawasan.
Dengan situasi yang masih dinamis, pelaku pasar kini menanti arah kebijakan berikutnya dari Washington. Perkembangan konflik geopolitik ini dipastikan akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.(*)






