Serangan Presisi Hantam Basis AS di Saudi, Pesawat Radar Canggih Hancurlebur Dirudal Iran

Api berkobar setelah rudal Iran menghantam pesawat radal super canggih milik AS di Arab Saudi.
Api berkobar setelah rudal Iran menghantam pesawat radal super canggih milik AS di Arab Saudi.

Teheran, fajarharapan.id – Gelombang serangan yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan mengguncang pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, memicu kerugian strategis yang tidak kecil. Insiden yang disebut terjadi pada 27 Maret itu menargetkan Prince Sultan Air Base—salah satu titik vital operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.

Salah satu kerugian paling mencolok adalah hancurnya pesawat peringatan dini milik Angkatan Udara AS, Boeing E-3 Sentry. Pesawat ini dikenal luas sebagai pusat kendali udara yang berfungsi mendeteksi ancaman dari jarak jauh sekaligus mengoordinasikan berbagai operasi tempur.

Dalam berbagai gambar yang beredar, bagian atas badan pesawat tampak mengalami kerusakan fatal, terutama pada kubah radar yang menjadi ciri khas sekaligus inti teknologi pengawasannya. Kerusakan di bagian tersebut membuat pesawat praktis kehilangan fungsi utamanya.

Tak hanya itu, laporan awal juga menyebutkan bahwa pesawat pengisian bahan bakar di udara, KC-135 Stratotanker, ikut terdampak dalam serangan tersebut. Kehadiran pesawat jenis ini sangat penting untuk mendukung operasi udara jarak jauh, sehingga kerusakannya memperbesar dampak operasional.

Sejumlah sumber militer menilai serangan ini dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi. Target yang disasar diduga berfokus pada sistem radar AN/APY-2 milik E-3, yakni komponen utama yang memungkinkan pengawasan wilayah dalam cakupan sangat luas serta pengendalian operasi lintas matra.

Akibat serangan tersebut, tidak hanya kerugian material yang terjadi. Sedikitnya 15 personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka, dengan beberapa di antaranya berada dalam kondisi serius.

Kehilangan satu unit E-3 Sentry menjadi pukulan penting bagi kekuatan udara Amerika Serikat. Pasalnya, jumlah armada pesawat ini terbatas dan tingkat kesiapan operasionalnya dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan belum sepenuhnya optimal.

Sebagai platform yang telah digunakan sejak akhir 1970-an, E-3 memang tergolong sistem lama. Namun hingga kini, pesawat berbasis Boeing 707 tersebut masih menjadi tulang punggung dalam sistem pengawasan dan komando udara modern.

Peristiwa ini juga memperlihatkan perubahan pola peperangan, di mana serangan tidak lagi sekadar mengandalkan daya hancur, tetapi juga ketepatan dalam melumpuhkan sistem kunci lawan. Menargetkan radar berarti memutus “mata dan telinga” dalam operasi militer.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi yang merinci sepenuhnya dampak serangan maupun langkah balasan dari pihak Amerika Serikat. Namun, insiden ini diperkirakan akan memicu evaluasi besar terhadap sistem pertahanan dan perlindungan aset strategis AS di kawasan Timur Tengah.(*)