Kota Pariaman – Di tengah riuhnya kawasan Pantai Gandoriah, Kota Pariaman, Sumatera Barat sebuah pesan serius disampaikan. Bukan tentang hiburan atau wisata semata, melainkan tentang keselamatan yang kerap dianggap sepele di laut. Tempat ribuan orang menggantungkan hidupnya.
Sebanyak 15 pelaku usaha kapal wisata menerima bantuan pelampung dari Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman. Penyerahan dilakukan oleh Elfis Chandra, mewakili Wali Kota Pariaman, dalam rangkaian Event Piaman Barayo 2026 yang menyedot perhatian publik.
Di balik simbolis penyerahan itu, tersimpan realita yang tak bisa diabaikan. Laut memang memberi kehidupan, namun juga menyimpan ancaman.
Pemerintah mengingatkan bahwa keselamatan bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan agar setiap pelaku usaha bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Namun, sorotan muncul pada skala bantuan. Masing-masing pelaku usaha hanya menerima dua pelampung standar internasional. Di satu sisi, ini langkah awal.
Di sisi lain, publik mempertanyakan: cukupkah ini untuk menjawab risiko yang nyata di perairan wisata?
Pemerintah berdalih, bantuan ini adalah stimulan. Pemantik kesadaran, bukan solusi akhir. Harapannya, para pengusaha kapal tidak lagi menganggap keselamatan sebagai beban, melainkan investasi jangka panjang bagi bisnis mereka.
Lebih jauh, Pemko Pariaman juga menekankan pentingnya disiplin operasional. Proses antar-jemput penumpang ke pulau-pulau wisata harus dilakukan dengan standar yang lebih ketat, demi meminimalisir potensi kecelakaan laut yang kerap terjadi tanpa peringatan.
Di hadapan Forkopimda dan jajaran perangkat daerah, pesan itu ditutup dengan harapan sederhana namun krusial: bantuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan titik awal perubahan. Sebab di laut, satu pelampung bisa menjadi pembeda antara tragedi dan keselamatan.(mak).






