Padang Pariaman – Tak sekadar keramaian yang terjadi di Duku Banyak, Balah Aia, VII Koto, Padang Pariaman, Sumatera Barat selama dia hari adalah luapan rasa yang tak terbendung. Puluhan ribu manusia berdesakan, bukan hanya ingin menonton, tetapi ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ingatan kolektif tentang kampung halaman, tentang tradisi yang tak pernah benar-benar pergi.
Langit Balah Aia seolah ikut bergetar saat derap kuda menghantam tanah di Arena Pacu Kudo, Sabtu (28/3/2026) berubah menjadi lautan manusia, penuh sorak, tawa, bahkan haru.
Di sanalah, budaya Minangkabau berdiri tegak. Bukan sebagai simbol, tapi sebagai denyut hidup yang nyata.
Di tengah gemuruh itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, membuka secara resmi perhelatan akbar tersebut, didampingi Bupati John Kenedy Azis dan Wakil Bupati Rahmat Hidayat.
Namun di balik seremoni, yang terasa justru getaran kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Mahyeldi menyambut para perantau dengan hangat. Mereka yang pulang membawa rindu, dan menemukan jawabannya di arena ini. Sebab Pacu Kudo bukan sekadar tontonan, tapi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan hari ini.
Sementara itu, John Kenedy Azis berbicara dengan nada yang lebih dalam. Terutama tentang arti kebersamaan, tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih demi satu tujuan. Menjaga warisan agar tetap bernyawa.
Ia tahu, tanpa kepedulian, tradisi hanya tinggal cerita. Di lintasan pacu, kuda-kuda berlari membawa lebih dari sekadar joki. Mereka membawa sejarah, harga diri, dan semangat orang kampung.
Pada setiap hentakan kaki kuda seperti mengetuk dada penonton. Mengingatkan bahwa identitas tak boleh hilang.
Tak hanya itu, denyut ekonomi pun ikut bergerak. Pedagang kecil tersenyum, lapak-lapak ramai, dan harapan tumbuh di sela hiruk pikuk. Di sini, budaya bukan hanya soal warisan, tapi juga soal kehidupan.
Bahkan, kehadiran Jefri Nichol memang memantik histeria. Namun sesungguhnya, bintang utama hari itu adalah rakyat sendiri. Mereka yang datang dengan cinta, pulang dengan cerita.
Sekitar 80 ekor kuda berlaga dalam 28 race dan dua kelas ekshibisi. Tapi angka-angka itu terasa kecil dibanding besarnya makna yang tercipta. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar kemenangan, melainkan keberlanjutan sebuah tradisi.
Hari itu, Pacu Kudo membuktikan satu hal. Budaya tidak akan pernah mati selama masih ada yang merindukannya.
Di Padang Pariaman, rindu itu menjelma menjadi kekuatan. Mengikat, menghidupkan, dan membuat semua orang percaya bahwa warisan leluhur akan selalu punya tempat di hati.(bay).






