Tekno  

ChatGPT Versi Gratis Segera Tampilkan Iklan, OpenAI Mulai Uji Coba

Ilustrasi.
Ilustrasi.

JakartaOpenAI mengumumkan rencana untuk mulai menayangkan iklan kepada pengguna ChatGPT versi gratis. Perusahaan teknologi kecerdasan buatan yang berbasis di San Francisco itu menyampaikan, Jumat (16/1/2026), bahwa fitur iklan belum diluncurkan, tetapi akan mulai diuji dalam beberapa pekan ke depan.

Langkah ini menjadi strategi terbaru OpenAI untuk memonetisasi lebih dari 800 juta pengguna ChatGPT, yang mayoritas mengakses layanan tersebut tanpa berlangganan.

Meski valuasinya telah menembus USD 500 miliar, OpenAI masih membukukan kerugian yang lebih besar dibandingkan pemasukan. Karena itu, perusahaan terus mencari sumber pendapatan baru agar bisa mencapai keberlanjutan bisnis.

“Yang paling penting, iklan tidak akan memengaruhi jawaban yang diberikan ChatGPT kepada Anda,” tulis Fidji Simo, CEO aplikasi OpenAI, melalui unggahan media sosial pada Jumat.

OpenAI menjelaskan, iklan digital nantinya akan muncul di bagian bawah jawaban ChatGPT, khususnya “saat ada produk atau layanan bersponsor yang relevan dengan percakapan pengguna.” Perusahaan menegaskan bahwa konten iklan akan diberi penanda yang jelas dan dipisahkan dari jawaban utama chatbot, sebagaimana dilaporkan Associated Press.

Di dunia teknologi, langkah ini bukan hal baru. Dua raksasa lain, Google dan Meta, telah lama mendominasi pasar iklan digital dan kini juga menyematkan iklan dalam berbagai fitur berbasis AI mereka.

Awalnya, OpenAI didirikan sebagai organisasi nirlaba dengan misi menciptakan AI yang aman dan bermanfaat bagi manusia. Namun, tahun lalu perusahaan merombak struktur kepemilikannya dan bertransformasi menjadi entitas berorientasi kepentingan publik. Pada Jumat, OpenAI menegaskan bahwa strategi periklanan mereka akan tetap sejalan dengan misi awal tersebut.

Meski begitu, sejumlah pihak menilai kebijakan ini mengandung risiko. Miranda Bogen dari Center for Democracy and Technology memperingatkan bahwa iklan yang dipersonalisasi bisa membawa OpenAI ke jalur yang sama seperti perusahaan media sosial.

“Orang menggunakan chatbot bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai teman dan penasihat,” ujar Bogen, Direktur AI Governance Lab di CDT. “Ada banyak hal yang dipertaruhkan ketika alat seperti ini mulai memanfaatkan kepercayaan pengguna untuk menjual produk.”

Saat ini, OpenAI memperoleh pendapatan dari layanan berbayar. Namun, perusahaan masih membutuhkan pemasukan tambahan untuk menutup kewajiban finansial yang nilainya melampaui USD 1 triliun, terutama untuk chip komputasi dan pusat data yang menopang layanan AI mereka. Kekhawatiran bahwa OpenAI tidak mampu memenuhi ekspektasi mitra besar seperti Oracle dan Nvidia juga memicu perdebatan tentang potensi gelembung industri AI.

CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa banyak orang ingin memanfaatkan AI tanpa harus membayar. “Kami berharap model bisnis seperti ini bisa berhasil,” tulisnya di platform X. Ia bahkan mengaku menyukai iklan di Instagram karena sering memperkenalkannya pada hal-hal yang tak akan ia temukan tanpa iklan.

OpenAI menegaskan tidak akan memanfaatkan data pribadi pengguna atau memancing pengumpulan informasi demi kepentingan iklan. Namun, bagi Paddy Harrington, analis dari Forrester, pertanyaan besarnya adalah “sampai kapan komitmen itu bertahan.”

“Layanan gratis sebenarnya tidak pernah benar-benar gratis. Platform AI publik juga harus menghasilkan uang,” kata Harrington. “Pepatah lama tetap berlaku: jika sebuah layanan gratis, maka kitalah produknya.”(BY)