Oleh: Lathifah Risya Jannah
(Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Minangkabau, Unand)
Kabau Padati, atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan kerbau pedati, merupakan istilah dalam bahasa Minang. Mendengar nama kerbau pedati, kita terhanyut dalam kenangan masa lalu sekitar 30 tahun yang lalu.
Pada masa itu, suasana belum sebising sekarang, dan mobil belum menjadi kendaraan umum. Oleh karena itu, kabau padati atau kerbau pedati menjadi salah satu pilihan transportasi yang digunakan pada masa tersebut.
Padati, atau juga dikenal dengan sebutan pedati, adalah kendaraan tradisional yang memiliki berbagai fungsi pada zaman dulu. Namun, saat ini sepertinya telah terlupakan oleh kemajuan zaman.
Kita hanya dapat menemukan pedati sebagai pajangan di museum atau setidaknya di sisi rumah gadang orang-orang Minang yang kaya. Mereka ingin membangun kenangan rumah gadang lengkap dengan aksesoris pedati atau bendi.
Sebelum adanya kendaraan bermesin seperti sekarang ini, pedati menjadi sarana transportasi yang utama, terutama untuk mengangkut barang. Baik dalam nagari (desa) maupun antar kota, pedati sering digunakan untuk mengangkut hasil bumi ke pasar atau pelabuhan kapal di pesisir pantai Ranah Minang.
Pedati pada umumnya ditarik oleh kerbau. Bodi pedati mirip dengan bak truk saat ini. Kusir pedati duduk di antara kerbau dan bak pedati dengan mengendalikan tali dan cambuk kecil.
Kusir pedati ini biasanya memiliki kemampuan bela diri yang handal karena keamanan di jalan menjadi perhatian utama. Mereka harus melindungi diri dari serangan binatang buas maupun penyamun yang berusaha merampok barang bawaan mereka.
Kusir pedati ini sering kali dikenali dengan pakaian serba hitam, mengenakan celana bin sarawa galembong dengan kepala diikat dengan destar atau deta. Jari-jari mereka dihiasi dengan batu akik lengkap dengan pisau sirauik atau karambik untuk keperluan keamanan dan lainnya di jalan.
Ketika melakukan perjalanan antar nagari atau kota dengan membawa dagangan, pedati ini tidak pernah berjalan sendirian. Masyarakat pada masa itu menggunakan istilah “konvoi” untuk menggambarkan kelompok pedagang yang berjalan beriringan sepanjang jalan dengan alunan ganto atau genta yang digantungkan pada kerbau atau dibagian bawah pedati.
Bunyi ganto menjadi ciri khas bagi masyarakat di pinggir jalan untuk menandai rombongan pedagang dengan pedati yang sedang melintas menuju pasar atau balai. Jika perjalanan memakan waktu berhari-hari, pedati ini juga dilengkapi dengan lampu gantung atau lentera.
Pedati merupakan kendaraan yang lazim digunakan di Minangkabau sebagai alat pengangkutan pada masa lampau. Kendaraan ini terbuat dari kayu dengan bentuk yang elegan dan dihiasi dengan ukiran yang rumit.
Selain digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang, pedati juga menjadi bagian tak terpisahkan dari acara-adat seperti pernikahan dan upacara lainnya. Meskipun kendaraan modern telah menggantikan sebagian besar kebutuhan transportasi, pedati masih digunakan dalam acara-acara budaya dan pariwisata sebagai atraksi wisata.
Bagian-bagian pedati tetap memperhatikan arsitektur khas Minangkabau. Misalnya, atapnya yang berbentuk bagonjong dan penutupnya yang terbuat dari ijuk. Roda pedati jauh lebih besar dibandingkan roda bendi. Pedati dihiasi dengan aksesori yang indah, terutama di bagian depan tempat tukang pedati duduk dan tidur.
Kaki kerbau yang menarik pedati diberi sepatu, biasanya terbuat dari bahan empuk seperti karet bekas dengan pengikat yang dililitkan di sekeliling kaki. Hal ini membuat kaki kerbau terlihat lebih besar. Selain itu, pada leher kerbau, digantungkan ganto yang terbuat dari kuningan sehingga bunyi ganto (genta) ini dapat terdengar dari kejauhan, berdentang-dentang seiring langkah kerbau yang setia menarik pedati.
Kabau padati atau kerbau pedati adalah warisan budaya yang bernilai tinggi bagi masyarakat Minangkabau. Meskipun kini jarang digunakan sebagai sarana transportasi, penting untuk mengenang dan melestarikan kendaraan tradisional ini sebagai bagian dari identitas dan sejarah budaya kita.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya, pedati tetap digunakan dalam acara-acara budaya dan pariwisata, mengingatkan kita akan nilai-nilai dan keindahan masa lampau yang tak ternilai harganya.(***)






