Ayo ..! Diretaskan Mentalitas Peduli Sampah dan Lingkungan Hidup

Oplus_0

Kota Pariaman – Masalah sampah menyangkut kepada kebersihan. Setidaknya, di lingkungan rumah, komplek perumahan atau Kantor. Begitupun, juga di ruang publik fasilitas umum.

Seperti Pusat Perbelanjaan, Terminal, Bandara dan sebagainya. Apalagi, pada ruang publik destinasi pariwisata yang merupakan titik lokasi akan dikunjungi banyak orang.

Ini agaknya, sangat penting sekali masalah kebersihan lingkungan Objek Wisata Pantai. Sebab, kebersihan Pantai yang terjauh dari per-sampah-an, akan membuat betah para Wisatawan bertahan untuk menikmati kebersihan dan keindahan Wisata Pantai.

Untuk mencapai hal demikian, maka dilakukan proses dan dukungan dari semua stakeholder. Juga, tergantung kepada sikap,  perilaku serta mentalitas dari setiap yang memproduk “sampah” mereka itu sendiri.

Disamping itu, juga ada dorongan serta kemauan kuat dari pemegang otoritas kebijakan untuk berkemajuan terjauh dari per-sampah-an. Sehingga akan memperoleh nilai jual tentang kebersihan itu bagian dari iman.

Tak pelak lagi, ada salah seorang Manager, terlihat berteriak kepada Tim Work dia, seusai uji coba laga pertandingan.

“Ayo ..! Kumpulkan sisa dari makanan dan minuman kita sendiri. Nah, kapan lagi, kita berbuat dan bergerak untuk kebersihan ini. Siapa lagi, kalau bukan kita yang memulai kerapian dan keindahan” ajak sang tokoh itu.

Bahkan, ia tegaskan dengan slogan “Bersih itu Indah”. Karena, ajaran syar’i juga telah mengingatkan kita semua, bahwa kebersihan itu bahagian dari iman. Janganlah buang sampah pada sembarang tempat, itu tidak elok.

Sontak mereka bergerak. Begitu para pemirsa yang mendengar. Langsung memungut sampah satu per-satu dengan memasukan ke kantong plastik yang mereka pegang.

Kenapa ..? bahwa ajakan motivasi ini sangat berharga buat diri dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat lainnya.

Apalagi, limbah dari makanan dan minuman kita sendiri, kok orang lain yang menyelamatkan. Ini memang sangat memalukan buat kita sendiri, kalau bukan kita yang bertanggung jawab kepada diri sendiri.

Tak elok lah, perilaku hal yang membuang sampah tidak karuan saja. Padahal “Tong Sampah” sudah tersedia di dekat kita masing-masing.

“Mari kita kumpulkan, satukan pada tempat yang telah tersedia. Kita tunjukan budaya bersih-bersih dari diri sendiri, sebelum yang lain berbuat” ucap sang Manager tersebut.

Alhamdulillah wasyukurillah, bergerak beres-beres “menyapu satu jam” tersebut, telah merubah sikap dan perilaku kepada yang lebih baik.

Hal demikian tentu untuk kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan sendiri. Begitu indah di pandang mata. Menenangkan kepada jiwa raga.

Sehingga sampah berserakan, dan terkumpul pada tempatnya, tidak dijumpai lagi. Karena, telah bergerak ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang telah ditentukan.

Sayang beribu sayang, ada dikalangan para pemirsa bertanya kepada warga di sana. “Pak, buk, iko sampah kama di tarok yo” tanya dia dengan logat daerahnya kepada seseorang yang berada di titik lokasi yang sering sampah bertumpuk tersebut.

Sebab, mereka lihat sudah barasiah tempat pembuangan sampah maupun di sekeliling lokasi tersebut.

“Buang saja sampah telah berbungkus itu, agak jauh dengan cara melempar kuat-kuat ke arah sana” jawab yang berada dekat lokasi tersebut menyarankan.

Kalau tindakan yang demikian, gumam si pemilik sampah tadi, bahwa ini “Asoy Tabang” namanya. Tak beretika lah perilaku itu dilakukan.

Rupanya, setelah dilihat dan ditelusuri ke titik lokasi yang disarankan, maka ditemukan ada jurang. Sehingga kita berpikir, “masak iya ke situ sih ..? Lantas, si pemilik sampah tadi, meletakan kantong kardus berisi sampah tersebut di areal belakang sana.

Lantas, malah kita ditegur. “Jangan di situ. Segera lemparkan kuat-kuat jauh ke arah sana” ucap dia dengan nada agak keras.

Sehingga muncul pertanyaan dalam hati ini, kok begitu mentalitas dikalangan oknum insan tentang sekelumit untuk penanganan sampah ini.

Padahal, kita berbuat kebaikan untuk semua. Pun, kami mengakui bukan di wilayah kami sendiri. Oleh sebab itu, maka kami tak bisa apa-apa lagi.

Pada suatu sisi, itu lokasi jurang merupakan adalah karya Allah yang luar biasa untuk kebersihan lingkungan hidup.

Untuk itu, maka seharusnya alam dijaga dari pencemaran lingkungan. Termasuk dari pencemaran sampah. Karena, akan berdampak kepada ekosistem habitat lainnya. Sungguh memprihatinkan kita, perihal mentalitas menangani sampah ini.

Semoga Allah gerakkan hati siapa saja untuk peduli sampah dan peduli lingkungan alam semesta. Mari kita retaskan mentalitas peduli sampah.

Ya Allah ampuni kami. Karena, masih belum begitu peduli-peduli juga dalam menjaga kebersihan, maupun peduli tehadap pencemaran lingkungan hidup. Ini menyangkut hajat hidup anak cucu Bangsa di kemudian hari. (rb/ssc).