Sport  

Lapangan Filipina Seperti ‘Aspal Jalan Raya,’ Tantangan Berat Bagi Timnas Indonesia

Kondisi lapangan di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, disamakan seperti aspal jalan raya.
Kondisi lapangan di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, disamakan seperti aspal jalan raya

Jakarta Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji menggambarkan lapangan di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, sebagai keras seperti aspal jalan raya. Tingkat kekerasan lapangan tersebut cukup tinggi, menyebabkan hampir semua pemain terluka saat terjatuh di atas rumput.

Timnas Indonesia saat ini menempati posisi dasar klasemen sementara Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, dengan satu poin dari dua pertandingan. Hasil ini diperoleh setelah mengalami kekalahan telak 1-5 dari Timnas Irak dan hasil imbang 1-1 dengan Timnas Filipina.

Meski demikian, peluang Timnas Indonesia untuk lolos masih terbuka, terutama dengan adanya pertandingan kandang yang akan datang. Selain itu, ada satu kondisi yang bisa menguntungkan skuad Garuda pada pertandingan selanjutnya.

Irak diperkirakan akan menghadapi kesulitan saat bertandang ke markas Filipina. Stadion tersebut, menurut Sumardji, memiliki lapangan yang berbahaya bagi pemain, menjadi tantangan berat bagi Irak yang banyak memiliki pemain berkarier di Eropa. Mereka tentu tidak terbiasa dengan lapangan yang tidak baik.

Pada kunjungan Timnas Indonesia ke Manila pada November 2023, Sumardji mengungkapkan bahwa 10 pemain di bawah arahan Shin Tae-yong mengalami luka lecet setelah bermain di lapangan tersebut.

“Kondisi lapangan itu sangat memprihatinkan. Lapangan itu tidak layak, seharusnya sintetis,” kata Sumardji kepada awak media, termasuk MNC Portal Indonesia (MPI), di Jakarta Timur, pada 30 November 2023.

“Kali ini saya melihat 11 pemain, hanya kiper yang tidak terluka. Sepuluh lainnya semuanya terluka,” lanjut COO Bhayangkara FC tersebut.

Kondisi lapangan begitu parah, hingga Sumardji menyamakannya dengan aspal jalan raya. Ia menyoroti keberadaan banyak karet tajam pada lapangan sintetis tersebut.

“Setelah jatuh, pasti lututnya terluka. Seperti di aspal jalan raya, karena saya melihat banyak karet tajam di lapangan sintetis itu,” keluh Sumardji.

“Ketika terkena, seperti tersilet atau terkena pisau, ya begitulah kondisinya menurut saya, saya sampaikan apa adanya, bukan untuk membela anak-anak. Selama ini saya tidak pernah menyampaikan hal seperti ini,” tambahnya.(BY)