![]() |
| Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd Kepala SDN 17 Ulakan Tapakis Padang Pariaman |
Apa itu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang disingkat dengan sebutan P5 … ?
Pertanyaan ini pasti pernah melintas di benak kita, seiring dengan bergulirnya Kurikulum Merdeka (Kurmer) tahun lalu. Walaupun Kurmer ini sudah mengalami revisi, dan penyempurnaan namun pelaksanaannya masih meraba-raba.
“Rumah tampak, tapi jalan menuju rumah tersebut belum kelihatan” begitulah, istilah kebanyakan orang ketika itu.
Ini patut kita maklumi, karena sosialisasi Kurmer dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) nya ini, tidak seperti harapan kebanyakan orang.
Idealnya, kurikulum baru ini dilakukan dengan sosialisasi yang maksimal terlebih dahulu, dan diiringi dengan pelatihan yang berjenjang. Tentu, di awali dari tingkat Pusat sampai ke daerah. Sehingga, apa yang telah digariskan oleh Pemerintah, bisa diterjemahkan di level sekolah.
Namun, seiring perkembangan tekhnologi digital dan tuntutan perubahan zaman, kita terpaksa agar alat menyesuaikan diri dengan keadaaan. Sosialisasi Kurmer dengan sistem Darringpun harus kita ikuti.
Bermacam ragam kendala dtemui, seperti gaptek, keterbatasan kuota paket internet dan lain sebagainya. Juga permasalahan signal, merupakan tantangan tersendiri dalam perubahan zaman ini.
Walhasil, beragam penerimaan dan interpretasi terhadap Kurmer bersama P5, melalui webinar dan zoom menjadi perdebatan hangat. Bahkan, menjurus kepada tidak ada benang merah, mana yang benar dan mana yang keliru.
Semua serba abu-abu. Namun demikian, Kurikulum haruslah berjalan sesuai tuntutan. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Selama masih ada usaha dan upaya yang dilakukan demi teruntuk kepentingan peserta didik itu, sudah cukup untuk mendapat apresiasi. Yang tak elok itu, adalah tidak mau menerima perubahan kurikulum dengan berbagai alasan dan dalih.
Berdasarkan penomena latar belakang di atas, penulis ingin mengajak pembaca semua untuk kembali bernostalgia dengan memoar kita masing-masing.
Dulu, lebih kurang 15 s/d 30 tahun lalu, mungkin lebih dari itu, kita pernah belajar di bangku Sekolah Dasar (SD). Guru keterampilan atau guru PKK kita, pernah menyuruh para muridnya membawa bahan anyaman, daun pandan, daun kelapa, benang dan kain, kain perca, beras, nasi, cabe, bawang, minyak, telor, kacang, tepung terigu/beras dan masih banyak yang lainnya.
Pada prinsipnya, kesemua itu bertujuan untuk melatih kita para murid kala itu, agar terampil dalam berkarya dengan menghasilkan sesuatu yang bernilai jual.
Maksudnya, secara tidak langsung, guru kita, telah mengajarkan pada siswanya agar menjadi pelajar yang mampu bekerja secara mandiri dalam kelompok dibawah bimbingan dan arahan. Semua siswa harus fokus pada instruksi, tidak ada yang melenceng sedikitpun. Mereka antusias, ingin tahu, harus bisa dan berhasil.
Kalau kita amati dan renungkan, mungkin pesan yang ingin disampaikan oleh pemerintah dengan P5 ini, sama persis dengan pengalaman kita pada masa lampau, ketika pelajaran prakarya/keterampilan pada satu dimensi.
Agaknya, P5 ini merupakan projek atau aksinya yang akan menemukan jawaban tersebut, melalui kompetensi peserta didik. Oleh karena itu, yang diinginkan adalah ‘out put dan out come’ sebuah instansi pendidikan.
Nah, sekarang mari kita bahas satu persatu dengan secara perlahan dan seksama. Apa itu P5 … ?
Proyek, merupakan sejenis kegiatan yang dilakukan dengan aksi nyata. Penguatan, adalah usaha guru dalam memberikan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur Pancasila yang terkandung dalam aksi nyata sebuah proyek.
Profil, artinya ciri-ciri atau yang menandakan bahwa siswa sudah mencerminkan karakter baik sesuai nilai-nilai luhur Pancasila. Pelajar, adalah pembelajar sepanjang hayat/cinta ilmu.
Pancasila, lima sila yang terdapat dalam burung garuda.
Sedangkan Profil Pelajar Pancasila yang diinginkan pemerintah adalah, sekumpulan kompetensi/kemampuan peserta didik yang diperoleh melalui beberapa disiplin ilmu/lintas mapel.
Sedangkan kompetensi itu, bisa berimplikasi pada sikap dan perilaku yang sesuai dengan tujuan pendidkan nasional. Yakni membentuk siswa yang berakhlak mulia (berkarakter baik).
Nilai karakter baik ini, akan didapat melalui 6 (enam) dimensi yang terkandung dalam P5, yaitu ;
Pertama, Iman dan Takwa. Pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak mulia (5 Elemen kunci Akhlak; Akhlak beragama, Akhlak pribadi, Akhlak kepada manusia, Akhlak kepada alam dan Akhlak bernegara).
Kedua, Berkebhinekaan Global. Pelajar Indonesia yang memiliki pemikiran terbuka terhadap pemikiran dan budaya orang lain, berintegrasi menghargai budaya lain, dan bertoleransi dengan sesama.
Ketiga, Gotong-royong. Pelajar Indonesia yang memiliki jiwa dan semangat gotong-royong, semangat kerjasama, saling bahu-membahu, berkolaborasi, peduli dengan sesama. Tidak egois, pemalas dan introvert/tertutup dengan orang lain.
Keempat, Mandiri. Pelajar yang bertanggung jawab terhadap sesuatu yang dikerjakan baik yang dibebankan maupun inisiatif sendiri. Bertanggung jawab atas segala proses dan hasil yang dicapai.
Kelima, Bernalar kritis. Pelajar Indonesia yang mampu berliterasi; membaca, memahami, menganalisa dan menyimpulkan berbagai informasi dari banyak sumber.
Keenam, Kreatif. Mampu mencipta, mengadopsi, mengkreasi, mengimitasi dan mengadaptasi sesuatu sehingga menghasilkan karya yang orisinil bernilai jual tinggi.
Jadi, keenam dimensi P5 ini, tidak hanya terasah pada tataran kognitif saja, melainkan berimplikasi pada perubahan sikap, dan perilaku melalui suatu kegiatan yang berbasis projek dalam koridor tujuh tema besar P5. Yakni, Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhineka Tunggal Ika, Suara Demokrasi, Berekayasa dan Berteknologi Membangun NKRI, Bangunlah Jiwa dan Raganaya, Kewirausahaan.
So, dari ketujuh Tema Besar P5 tersebut,maka ada 5 diantaranya diperuntukkan bagi Sekolah Dasar (SD) di luar Suara Demokrasi dan Bangunlah Jiwa dengan Raganya.
Terus, dari lima tema di atas, yang paling mudah untuk dilaksanakan di SD maupun SMP itu, adalah tema Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal dan Kewirausahaan.
Untuk Gaya Hidup Berkelanjutan tersebut memiliki dimensi iklim global, kegiatan ramah lingkungan, bencana alam, krisis air bersih dan krisis pangan. Makanya pada setiap dimensi ini, siswa bersama guru (Guru Kelas bersama guru Mapel berkolaborasi) untuk mewujudkan sebuah proyek.
Seperti proyek pengolahan dan manajemen sampah, proyek berkebun, bercocok tanam, budaya ternak, daur air dan lain sebagainya. Sehingga terbangunnya keterampilan siswa.
Tema Kearifan lokal umpamanya,mengangkat tema-tema dimensi budaya lokal. Seperti ; budaya malamang, budaya sambareh, budaya basalam dengan anak daro, budaya tabuik, budaya khitan, turun mandi.
Atau juga mengangkat acara pergelaran seni ; melalui proyek tarian tradisional, petatah-petitih adat, tambo adat, cerita rakyat, pencak silat dan masih banyak yang lainnya. Sehingga siswa dapat pemahaman dengan pengalaman secara langsung.
Kemudian, Tema Kewirausahaan dengan mengangkat tema aneka kue tradisional, aneka jajanan pasar, kuliner, atau peralatan tradisional yang bernilai jual. Seperti anyaman tikar pandan, tudung saji, keranjang buah, gerabah, sapu ijuk, sapu lidi, sarang ketupat, kemoceng dan lain-lain. Tentu, implikasinya nanti, bahwa siswa akan memiliki keterampilan dan keahlian sebagai modal dasar.
Pada intinya dalam kewirausahaan ini, bisa mengangkatkan perkekonomian masyarakat. Sehingga peserta didik nantinya, punya bekal untuk mengembangkan wirausaha bersama rekan dan keluarga.
Setelah proyek ini dilakukan dalam satu atau dua semester, diharapkan pada akhir tahun, warga sekolah melakukan panen raya P5 dengan melibatkan warga masyarakat. Bisa jadi, akan terbentuk semacam “Bazar P5” dengan menjual aneka kue kering dan basah, peralatan dapur/rumah tangga yang dapat meraup omset besar, ratusan ribu. Bahkan, bisa jutaan bila dikoordinir dengan baik dan bijak.
Akhirnya, bermuara dengan melibatkan warga sekolah, komite, walimurid dan masyarakat, maka out putnya akan meningkatkan pula kepada mutu dan daya jual sebuah sekolah. Hal demikian, berdasarkan inovasi unggulan yang ditawarkan kepada publik.
Insya’ Allah, masyarakat akan melirik dan berbondong-bondong menitipkan anaknya untuk belajar di sekolah tersebut.
Semoga hasil refleksi melalui tulisan ini, berkenan dan bermanfaat untuk kita semua. Terutama kalangan guru dan para orang tua.
Selamat berinovasi…!
Sumber Bacaan:
– Alfian Tarmizi, P5 di Sekolah Ajang Peminatan dan Asah Bakat Peserta Didik, 2022
– Hamidita, Mengenal P5 dalam Kurikulum Merdeka, Detikedu.com, 26-8-2022
– https://kurikulum.kemdikbud.go.id, Panduan P5 Kurikulum Merdeka, 2022
– https://www.amongguru.com, Buku Panduan P5, 2022
– https://www.datadikdasmen.com, Modul dan Panduan P5, 2022







