![]() |
| Khairuddin Simanjuntak anggota DPRD Sumbar dari Partai Grindra,foto bersama usai penutupan pelatihan bimbingan teknis bagi para pelaku ekonomi kreaktif di Bukittinggi,belum lama ini. |
Bukittinggi, fajarharapan.id – Duduk di DPRD Sumbar pada periode yang sedang berjalan, setelah sebelumnya dua periode berturut-turut menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasaman, Khairuddin Simanjuntak menilai perjuangannya belum cukup untuk rakyat dan daerah melalui lembaga legislatif
“Saya sudah berketetapan hati maju lagi di Pileg 2024 untuk mengincar kursi keanggotaan di DPRD Sumbar,” ujar lagislator Partai Gerakan Indonesia Raya dari Daerah Pemilihan Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat (Pasbar) ini di Bukittinggi, belum lama ini.
Khairuddin menilai, ia telah melakukan yang terbaik untuk daerah dan masyarakat yang diwakilinya selama menjadi anggota DPRD Sumbar dalam periode yang sedang berjalan, yaitu untuk rentang waktu 2019-2024.
Khairuddin menyebut contoh di tahun anggaran 2022 lalu, di mana ia mampu menggaet sebesar Rp20 miliar dana di APBD Sumbar, yang kemudian dialokasikan untuk berbagai kegiatan dan program di dapilnya, Pasaman dan Pasbar.
Menurut Khairuddin, kalau ada masyarakat yang menilai ia belum maksimal melakukan tugas dan fungsinya sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Tapi, menurut Khairuddin, ia merasa telah berbuat semampu yang bisa ia lakukan untuk daerah dan masyarakat yang ia wakili di tingkat provinsi
Menurut Khairuddin, selain ingin berbuat yang terbaik lagi, dasar pertimbangan untuk maju lagi jadi caleg di Pileg 2024 bertolak dari kondisi Pasaman dan Pasbar hari ini.
Menurut Khairuddin, Pasaman dan Pasbar hari ini dan ke depan masih memerlukan sentuhan yang lebih dalam lagi dari pemerintahan provinsi -termasuk pemerintahan pusat untuk mengejar ketertinggalannya dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain yang ada di Sumbar.
Karena banyak menghabiskan usia untuk mengabdi bagi kepentingan orang banyak, Khairuddin mengaku tak jarang mendapat komplain dari anggota keluarganya karena merasa kurang duperhatikan. Pernah, kenang Khairuddin, ia diprotes anak karena telat membayar SPP di sekolah.
Khairuddin menilai hal itu sebagai konsekuensi logis yang harus ia terima dari pilihan hidupnya mengabdi bagi kepentingan masyarakat melalui jalur politik praktis. Saya ini pejuang, bukan penikmat, tandasnya. (spa)







