Jakarta – Tren mengonsumsi mentega secara langsung mulai menarik perhatian di media sosial. Jika biasanya digunakan sebagai olesan roti atau campuran masakan, kini sebagian orang justru menyantap mentega dalam jumlah besar tanpa diolah terlebih dahulu.
Tidak sedikit pula yang menyajikan mentega dalam bentuk satu blok utuh, kemudian menambahkan berbagai pelengkap, mulai dari mousse cokelat hingga saus pasta. Meski terlihat menggugah selera dalam video, kebiasaan tersebut patut diwaspadai karena dapat meningkatkan asupan lemak dan energi secara berlebihan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Sri Anna Marliyati, mengingatkan pentingnya memahami kandungan gizi serta dampak makanan sebelum mengikuti tren yang ramai di internet.
Menurutnya, mentega maupun margarin masih dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Namun, mengonsumsinya secara langsung dalam porsi besar bukan kebiasaan yang dianjurkan.
1. Kalori Bisa Bertambah dalam Waktu Singkat
Salah satu risiko utama dari kebiasaan makan mentega atau margarin secara berlebihan adalah meningkatnya asupan energi harian.
Sri menjelaskan bahwa lemak memiliki kepadatan energi yang tinggi. Setiap satu gram lemak menyumbang sekitar 9 kilokalori (kkal). Artinya, semakin banyak lemak yang dikonsumsi, semakin besar pula energi yang masuk ke tubuh.
Ia juga menerangkan bahwa mentega dan margarin memiliki karakteristik kandungan lemak yang berbeda. Mentega umumnya mengandung lebih banyak lemak jenuh, sedangkan margarin lunak yang dibuat dari minyak nabati cenderung memiliki kandungan lemak tak jenuh lebih tinggi.
Perbedaan tersebut membuat konsumen perlu memperhatikan jenis produk dan jumlah yang dikonsumsi, bukan sekadar mengikuti tren makanan yang sedang populer.
2. Berpotensi Memicu Gangguan Pencernaan
Mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi dalam jumlah besar juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
Lemak dapat memperlambat proses pengosongan lambung. Akibatnya, seseorang mungkin merasa kenyang berlebihan, perut terasa penuh, begah, hingga mengalami mual setelah menyantap mentega dalam jumlah banyak.
Sri turut mengingatkan bahwa konsumsi makanan berlemak dapat merangsang kontraksi kantong empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau masalah pada organ tersebut, kondisi ini berpotensi memicu rasa sakit maupun ketidaknyamanan di bagian perut.
Karena itu, kebiasaan mengonsumsi mentega dalam porsi besar sebaiknya dihindari, terutama oleh mereka yang memiliki riwayat gangguan pencernaan atau penyakit pada kantong empedu.
3. Perlu Memperhatikan Kesehatan Jantung
Asupan lemak yang berlebihan secara terus-menerus juga perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan metabolisme tubuh.
Menurut Sri, kadar lemak dalam darah, termasuk trigliserida, dapat mengalami peningkatan sementara setelah seseorang mengonsumsi makanan berlemak. Jika pola makan tinggi lemak berlangsung berulang dan tidak diimbangi kebiasaan sehat, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik.
Kelompok yang memiliki dislipidemia, penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes disertai gangguan lemak darah, perlemakan hati, maupun riwayat batu empedu perlu lebih cermat dalam mengatur konsumsi makanan berlemak.
Meski demikian, dampak terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Jumlah asupan, frekuensi konsumsi, pola makan secara keseluruhan, serta kondisi kesehatan seseorang juga berperan penting.
Terapkan Pola Makan dengan Gizi Seimbang
Alih-alih mengikuti tren makan mentega secara berlebihan, masyarakat disarankan tetap berpegang pada prinsip gizi seimbang.
Sri menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan energi dan protein, memperbanyak konsumsi sayur serta buah, dan membatasi asupan gula, garam, serta lemak.
Mentega dan margarin tidak harus dihindari sepenuhnya. Keduanya tetap dapat digunakan sebagai bahan makanan, selama jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Mentega juga mengandung sejumlah zat gizi, seperti vitamin A dan B12, serta vitamin D dan E dalam jumlah tertentu. Namun, kandungan tersebut bukan alasan untuk menyantap mentega dalam porsi besar.
Berbagai vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh bisa diperoleh dari sumber makanan lain, seperti susu, telur, ikan, serta sayuran. Mengonsumsi beragam jenis makanan akan membantu memenuhi kebutuhan gizi secara lebih seimbang.
Secara umum, asupan lemak dianjurkan berada pada kisaran 20–30 persen dari total kebutuhan energi harian, dengan mengutamakan sumber lemak tak jenuh sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu ikut-ikutan mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung hanya karena tren tersebut viral di media sosial. Menikmati makanan tetap bisa dilakukan tanpa mengabaikan porsi, keseimbangan gizi, dan kesehatan tubuh.(BY)







