Air Mineral vs Air Demineral, Mana Lebih Sehat?

Perbedaan air mineral dan air demineral serta manfaatnya untuk kesehatan tubuh.
Perbedaan air mineral dan air demineral serta manfaatnya untuk kesehatan tubuh.

Jakarta — Sekilas, air minum dalam kemasan terlihat tidak memiliki banyak perbedaan. Warnanya sama-sama jernih dan fungsinya sama, yakni memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, kandungan mineral di dalam setiap jenis air bisa berbeda cukup signifikan.

Sebagian air minum mengandung mineral seperti kalsium dan magnesium dalam jumlah tertentu. Di sisi lain, ada air yang telah melalui proses khusus untuk mengurangi sebagian besar kandungan mineral terlarutnya. Jenis kedua inilah yang dikenal sebagai air demineral.

Lantas, apa yang membedakan air mineral dengan air demineral? Apakah air dengan kandungan mineral lebih tinggi selalu menjadi pilihan yang lebih baik?

Kandungan Mineral Menjadi Pembeda Utama

Perbedaan mendasar antara kedua jenis air tersebut berada pada kadar mineral yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan penelitian Universitas Indonesia, air mineral dapat mengandung berbagai unsur mineral, antara lain kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Kadarnya tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh sumber air serta teknologi pengolahan yang digunakan.

Sementara itu, air demineral diproses sedemikian rupa sehingga sebagian besar mineral terlarut di dalam air berkurang atau hilang. Proses tersebut dapat dilakukan menggunakan teknologi seperti reverse osmosis (RO), deionisasi, maupun metode pengolahan lainnya.

Dengan demikian, istilah “demineral” tidak menunjukkan bahwa air tersebut tidak layak dikonsumsi. Istilah tersebut hanya menggambarkan karakteristik air yang memiliki kadar mineral terlarut lebih rendah setelah melalui proses pengolahan.

Mineral Air Bisa Berkontribusi bagi Tubuh

Keberadaan mineral dalam air tidak sekadar menjadi informasi tambahan pada label kemasan. Beberapa mineral memang memiliki fungsi penting dalam tubuh manusia.

Kalsium, misalnya, dibutuhkan untuk mempertahankan kekuatan tulang dan gigi. Mineral ini juga terlibat dalam kerja otot, penghantaran sinyal saraf, serta proses pembekuan darah.

Magnesium juga memiliki peran dalam berbagai mekanisme tubuh. Mineral tersebut berkaitan dengan fungsi saraf dan otot, produksi energi, serta membantu menjaga fungsi jantung tetap normal.

Air minum dapat menjadi salah satu sumber kalsium dan magnesium. Meski demikian, makanan sehari-hari tetap menjadi sumber utama mineral bagi sebagian besar orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut menyoroti kontribusi air minum terhadap kebutuhan kalsium dan magnesium harian. Sejumlah penelitian menunjukkan air dengan kandungan kalsium tinggi dapat memberikan kontribusi cukup berarti terhadap kebutuhan harian, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mencapai sekitar seperempat kebutuhan kalsium seseorang.

Sementara untuk magnesium, air dengan kandungan mineral tinggi dalam penelitian tertentu diketahui dapat menyumbang sekitar 6 hingga 17 persen dari kebutuhan harian.

Artinya, air yang mengandung mineral memang dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi kontribusinya tetap bergantung pada kandungan air dan jumlah yang dikonsumsi.

Air Mineral atau Demineral, Mana yang Lebih Sehat?

Tidak tepat jika menentukan pilihan hanya berdasarkan anggapan bahwa salah satu jenis air pasti lebih sehat untuk semua orang.

Air mineral mempunyai keunggulan karena kandungan mineralnya dapat memberikan tambahan kalsium dan magnesium. Sebaliknya, air demineral mengandung jauh lebih sedikit mineral sehingga kontribusinya terhadap asupan mineral tubuh juga lebih rendah.

Pilihan air juga perlu mendapat perhatian khusus pada orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal. Organ tersebut memiliki peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan serta mineral di dalam tubuh.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penderita penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) dapat membutuhkan pengaturan terhadap sejumlah mineral, termasuk natrium, kalium, dan fosfor.

Karena kandungan mineral pada air mineral tidak selalu sama, penderita penyakit ginjal sebaiknya tidak langsung beranggapan bahwa seluruh jenis air mineral aman atau sesuai dengan kondisinya.

Dalam situasi tertentu, air dengan kadar mineral yang lebih rendah dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan. Air demineral memiliki karakteristik tersebut karena proses pengolahannya mengurangi sebagian besar mineral terlarut.

Namun, hal tersebut bukan berarti semua penderita penyakit ginjal harus mengganti air minumnya dengan air demineral. Kebutuhan cairan dan mineral pada pasien CKD sangat individual dan bergantung pada tingkat fungsi ginjal, kadar elektrolit, penyakit lain yang dimiliki, serta jenis terapi yang sedang dijalani.

Sesuaikan dengan Kondisi Tubuh

Pada akhirnya, menentukan jenis air minum tidak cukup hanya dengan melihat apakah produk tersebut tergolong air mineral atau air demineral.

Kandungan mineral di dalam air serta kebutuhan masing-masing individu juga perlu menjadi pertimbangan. Bagi orang yang sehat, kebutuhan mineral umumnya tetap dapat dipenuhi terutama melalui pola makan yang seimbang.

Sementara bagi seseorang yang memiliki penyakit ginjal, konsumsi cairan maupun mineral sebaiknya mengikuti kondisi medis masing-masing. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi diperlukan agar jenis dan jumlah cairan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh.(BY)