Jakarta – Kopi telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari banyak orang. Ada yang menikmatinya untuk mengawali aktivitas, menemani pekerjaan, hingga membantu tetap terjaga saat harus beraktivitas hingga malam.
Namun, pengaruh kopi terhadap tubuh ternyata tidak sebatas membuat seseorang lebih waspada. Minuman ini memiliki beragam senyawa yang dapat berinteraksi dengan berbagai sistem tubuh, termasuk saluran pencernaan.
Sejumlah penelitian juga menemukan berbagai fakta menarik mengenai konsumsi kopi. Bertepatan dengan Hari Kopi Internasional yang diperingati setiap 1 Oktober, berikut beberapa hal tentang kopi yang mungkin belum banyak diketahui.
1. Kopi Berhubungan dengan Perubahan Mikrobioma Usus
Efek kopi ternyata tidak hanya berkaitan dengan otak. Konsumsinya juga dikaitkan dengan perubahan pada mikrobioma usus, yakni kumpulan mikroorganisme yang berada di sistem pencernaan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications mengamati perbedaan antara orang yang rutin mengonsumsi kopi dan mereka yang tidak terbiasa meminumnya.
Dalam penelitian tersebut, peserta yang terbiasa minum kopi diminta menghentikan konsumsi selama dua minggu. Setelah periode tersebut, ditemukan perubahan pada komposisi mikroorganisme dan metabolit di dalam tubuh.
Ketika konsumsi kopi kembali dilakukan, beberapa perubahan tersebut turut terlihat kembali. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan kondisi mikrobioma usus.
2. Konsumsi Kopi Dikaitkan dengan Risiko Demensia
Kopi juga menjadi objek penelitian terkait kesehatan otak. Berdasarkan informasi yang dirangkum Harvard Health Publishing, konsumsi sekitar 2,5 cangkir kopi berkafein setiap hari dikaitkan dengan risiko demensia yang 18 persen lebih rendah dibandingkan konsumsi sedikit atau tidak minum kopi.
Kelompok yang mengonsumsi kopi dalam jumlah tersebut juga menunjukkan penurunan kemampuan kognitif yang lebih kecil.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa kopi secara langsung dapat mencegah demensia. Karena itu, temuan tersebut perlu dipahami dalam konteks penelitian dan tidak dijadikan kesimpulan bahwa kopi merupakan pencegah demensia.
3. Kopi Bisa Memicu Keinginan Buang Air Besar
Sebagian orang mungkin pernah merasakan dorongan untuk buang air besar tidak lama setelah menikmati kopi. Respons tersebut ternyata telah diamati dalam penelitian.
Studi yang dipublikasikan dalam European Journal of Gastroenterology & Hepatology menemukan bahwa kopi dapat meningkatkan aktivitas atau pergerakan usus besar pada sebagian orang.
Dalam penelitian tersebut, peningkatan aktivitas kolon bahkan dapat terlihat hanya beberapa menit setelah kopi dikonsumsi.
Menariknya, efek serupa juga ditemukan setelah peserta mengonsumsi kopi tanpa kafein atau decaf. Hal ini menunjukkan bahwa kafein bukan satu-satunya faktor yang mungkin berperan.
Salah satu dugaan yang dikemukakan berkaitan dengan respons gastrocolic, yaitu mekanisme ketika aktivitas saluran pencernaan merangsang pergerakan usus besar. Peran hormon dan sinyal saraf juga diduga terlibat, meski mekanismenya masih terus dipelajari.
4. Faktor Genetik Memengaruhi Respons terhadap Kafein
Efek kopi tidak selalu sama pada setiap orang. Ada individu yang dapat minum kopi pada sore atau malam hari tanpa mengalami gangguan tidur, sementara sebagian lainnya menjadi lebih sulit beristirahat setelah mengonsumsi sedikit kafein.
Perbedaan tersebut salah satunya dapat dipengaruhi faktor genetik. Tubuh setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam memproses dan merespons kafein.
Namun, faktor keturunan bukan satu-satunya penentu. Jumlah kopi yang dikonsumsi, waktu minum, kebiasaan mengonsumsi kafein, usia, serta tingkat sensitivitas tubuh juga dapat memengaruhi respons seseorang.
5. Secangkir Kopi Mengandung Ribuan Senyawa
Kandungan kopi ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar kafein. Mengutip The Washington Post, kopi memiliki lebih dari 1.000 senyawa kimia.
Sebagian senyawa tersebut memiliki aktivitas biologis dan dapat berinteraksi dengan tubuh. Selain kafein, kopi juga mengandung berbagai senyawa seperti polifenol serta sejumlah zat gizi, di antaranya magnesium, kalium, niasin, dan vitamin B.
Karena kandungannya beragam, pengaruh kopi terhadap tubuh tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kafein.
Jadi, minuman yang selama ini identik dengan rasa pahit dan efek meningkatkan kewaspadaan ternyata memiliki komposisi yang cukup kompleks. Berbagai senyawa di dalamnya dapat berinteraksi dengan tubuh melalui mekanisme yang berbeda.(BY)







