Jakarta – Pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap kondisi lingkungan menyusul terdeteksinya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di sejumlah wilayah.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengerahkan tim teknis untuk memantau kualitas udara sekaligus mengantisipasi kemungkinan dampak erupsi terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Minggu (6/9/2026) pukul 14.00 WIB menunjukkan kondisi udara di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat masih berada dalam rentang baik hingga sedang.
Namun, situasi di sejumlah wilayah Sumatera bagian selatan perlu mendapat perhatian lebih. Beberapa titik pemantauan mencatat ISPU pada level sangat tidak sehat, dengan partikulat PM2.5 menjadi parameter yang paling dominan.
Wilayah dengan kategori sangat tidak sehat antara lain Palembang Bukit Kecil dengan ISPU 216, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir sebesar 237, serta Kabupaten Ogan Ilir yang mencapai 213.
Sementara itu, kualitas udara dalam kategori tidak sehat terdeteksi di Kabupaten Lahat, Musi Rawas, Kota Prabumulih, Musi Banyuasin, Kabupaten Tebo, Kota Jambi, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Adapun kondisi udara kategori sedang tercatat di Muara Enim, Bengkulu, dan Bandar Lampung. Kabupaten Lampung Selatan menjadi salah satu wilayah yang masih berada dalam kategori baik.
Abu Vulkanik Terpantau di Sejumlah Wilayah
Pemantauan intensif dilakukan setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi pada 4 September 2026 sekitar pukul 23.23 WIB.
Analisis citra satelit BMKG hingga 6 September pukul 08.00 WIB menunjukkan material abu vulkanik telah teramati di sejumlah wilayah. Area yang terdampak mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, kawasan selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.
KLH/BPLH kemudian memperluas pemantauan untuk mengetahui kondisi lingkungan secara lebih menyeluruh. Tim teknis melakukan pengukuran kualitas udara ambien dengan sejumlah parameter, termasuk PM2.5, PM10, dan kadar sulfur dioksida (SO2).
Selain udara, kondisi perairan juga menjadi perhatian. Pemantauan kualitas air laut dilakukan terutama di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Sistem pemantauan kualitas udara melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) serta ISPU juga terus dimaksimalkan untuk memperoleh gambaran kondisi udara secara berkala.
Penyebab Partikulat Masih Dikaji
KLH/BPLH menyebut kondisi kualitas udara di Sumatera bagian selatan tidak dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pasalnya, sejumlah wilayah di kawasan tersebut juga masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Oleh sebab itu, pemerintah masih melakukan analisis teknis untuk mengetahui seberapa besar kontribusi abu vulkanik terhadap peningkatan partikulat di wilayah terdampak.
Plt Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Noer Adi Wardoyo meminta masyarakat tidak mengabaikan informasi mengenai perkembangan kualitas udara.
“Pantau informasi resmi. Jaga kualitas udara, jaga kesehatan bersama,” ujar Noer Adi dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Kelompok Rentan Diminta Lebih Waspada
Untuk memperkuat penanganan, KLH/BPLH berkoordinasi dengan sejumlah lembaga, antara lain BMKG, Badan Geologi/Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BNPB, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, serta instansi terkait.
Masyarakat yang termasuk kelompok rentan diminta meningkatkan kewaspadaan. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengandalkan informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan kualitas udara sebaiknya dipantau melalui kanal resmi pemerintah agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan langkah perlindungan diri berdasarkan kondisi terbaru.(BY)







