Jakarta – Anggapan bahwa lele yang melengkung atau meringkuk setelah digoreng berasal dari kolam yang menggunakan pakan kotoran manusia masih kerap beredar di tengah masyarakat. Sebaliknya, lele yang tetap lurus saat dimasak sering dianggap memiliki kualitas lebih baik. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Cecilia Eny Indriastuti, menegaskan bahwa bentuk tubuh lele setelah digoreng tidak dapat dijadikan acuan untuk menilai kualitas ikan maupun jenis pakan yang dikonsumsinya. Menurutnya, penilaian sebaiknya dilakukan sejak ikan masih dalam kondisi segar.
Ia menjelaskan bahwa lele yang berkualitas umumnya memiliki bentuk tubuh seimbang, kepala tidak terlalu besar dibanding badannya, daging terlihat berisi, warna kulit hitam mengilap, tekstur kenyal, serta tidak mengeluarkan aroma menyengat. Selain itu, ikan juga sebaiknya bebas dari luka, cacat fisik, atau perubahan warna pada kulit.
Mengenai isu pakan, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lele yang melengkung saat digoreng merupakan hasil budidaya dengan pakan feses manusia. Sejumlah sumber edukasi kesehatan menjelaskan bahwa perubahan bentuk ikan lebih dipengaruhi oleh kondisi fisik dan proses memasaknya dibandingkan jenis makanan yang pernah dikonsumsi.
Secara biologis, sistem pencernaan ikan akan mengolah setiap makanan menjadi zat-zat sederhana yang kemudian dimanfaatkan tubuh. Karena proses tersebut, bentuk tubuh ikan setelah dimasak tidak mencerminkan secara langsung jenis pakan yang pernah diberikan.
Di sisi lain, feses manusia juga bukan bahan pakan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi lele. Kandungannya didominasi air, sementara sisanya berupa sisa metabolisme, mikroorganisme, dan serat yang memiliki nilai gizi rendah. Untuk tumbuh optimal, lele tetap membutuhkan pakan kaya protein agar menghasilkan pertumbuhan yang baik dan kualitas daging yang maksimal.
Adapun tubuh lele yang tampak melengkung ketika digoreng lebih banyak dipengaruhi oleh proses memasak. Ikan dengan kandungan lemak lebih tinggi, misalnya, dapat mengalami penyusutan saat lemak meleleh akibat suhu panas sehingga bentuk tubuhnya berubah.
Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat menyebabkan lele tampak meringkuk ketika digoreng. Penggunaan wajan yang terlalu kecil dapat membuat tubuh ikan tertekuk selama proses memasak. Minyak yang terlalu panas juga membuat bagian luar matang lebih cepat dibanding bagian dalam sehingga memicu perubahan bentuk.
Penyimpanan dalam freezer dalam waktu lama dapat mengubah struktur jaringan daging, sementara kualitas air kolam dan kepadatan ikan selama masa budidaya turut memengaruhi kondisi fisik lele sebelum dipanen.
Dengan demikian, bentuk lele setelah digoreng tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa ikan tersebut diberi pakan kotoran manusia. Penilaian kualitas lele lebih tepat dilakukan melalui kondisi fisik ikan saat masih segar serta praktik budidaya yang diterapkan oleh pembudidaya.(BY)







