Padang  

Pemko Padang Susun Roadmap City of Gastronomy 2026–2030 Lewat FGD

FGD Awal Roadmap “Padang City of Gastronomy 2026-2026” Libatkan Hexa Helix.
FGD Awal Roadmap “Padang City of Gastronomy 2026-2026” Libatkan Hexa Helix.

Padang – Pemerintah Kota Padang mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertema Penyusunan Roadmap Padang City of Gastronomy 2026–2030 di Padang, Minggu (25/5/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merancang strategi untuk menjadikan Padang sebagai kota gastronomi berkelas internasional.

FGD tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza. Acara ini juga menghadirkan dua narasumber utama, yakni Yudhytia Wimeina, CPS dari kalangan akademisi, serta Y Vujji El Ikhsan sebagai perwakilan komunitas.

Dalam pemaparannya, narasumber pertama menyinggung branding Kota Payakumbuh sebagai City of Rendang yang telah dicanangkan sejak 17 Desember 2018. Ia juga menjelaskan kekayaan kuliner Padang yang terbentuk dari perpaduan budaya Minangkabau, India, dan Tionghoa.

Sementara itu, narasumber kedua membahas tiga kategori gastronomi. Pertama, lokal gastro yang menitikberatkan pada makanan dan minuman berbasis rempah daerah dengan cita rasa khas Minang.

Kedua, kontemporer gastronomi yang merupakan olahan modern hasil perpaduan resep urban dan tidak sepenuhnya tradisional. Ketiga, multietnis gastronomi yang mengangkat kuliner dari berbagai kelompok etnis non-Minang.

Diskusi juga diwarnai sesi tanya jawab yang membahas tantangan pengembangan gastronomi di Sumatera Barat. Salah satu peserta menyoroti bahwa banyak daerah memiliki jenis kuliner serupa, namun belum mengangkat nilai sejarah di balik penyajiannya.

Menanggapi hal itu, narasumber pertama menegaskan bahwa pengembangan gastronomi seharusnya tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga pada cerita budaya dan sejarah yang menyertainya. Ia mencontohkan proses pembuatan gulai ikan yang melibatkan pemilihan bahan hingga penggunaan asam sebagai bagian dari identitas kuliner.

Perwakilan Dinas Pendidikan juga menyoroti rendahnya ketertarikan anak usia dini terhadap makanan lokal. Ia mengusulkan agar gastronomi dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal serta kegiatan market day di sekolah, termasuk pengenalan minuman tradisional seperti teh talua sebagai media edukasi.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari narasumber pertama yang menilai bahwa pengenalan gastronomi dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran tanpa membatasi variasi kuliner.

Sejumlah masukan lain juga muncul dalam FGD tersebut, di antaranya kebutuhan pemandu wisata profesional yang menguasai bahasa asing seperti Mandarin, Jerman, dan Prancis. Selain itu, ada pula dorongan untuk mempercepat digitalisasi dalam mendukung UMKM, serta memperbanyak event promosi kuliner seperti Jajanan Pasar dan Coklat Jam Gadang yang direncanakan digelar pada 16 Juni mendatang.

FGD ini turut melibatkan tim ahli yang dipimpin oleh Dr. Haris Satria dengan fokus pada branding dan ekonomi kreatif. Anggota lainnya adalah Prof. Abna Hidayati yang membahas teknologi pendidikan, Okki Triananda yang mengkaji ekonomi dan bisnis, serta Dr. Yesi Puspita yang menyoroti ilmu komunikasi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir sebuah roadmap yang mampu memperkuat identitas kuliner Minangkabau sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata Kota Padang hingga tahun 2030.(des*)