RI Siapkan Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Tak Hanya untuk BBM

Ilustrasi tambang minyak.
Ilustrasi tambang minyak.

Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa rencana impor minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, tetapi juga untuk mendukung kebutuhan sektor industri.

Menurut Yuliot, distribusi minyak tersebut tidak sepenuhnya akan dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Pelaku industri nantinya juga dapat membeli langsung minyak tersebut untuk berbagai kebutuhan, seperti kegiatan pertambangan hingga industri petrokimia yang memerlukan bahan baku untuk produksi plastik, karet sintetis, serat tekstil, pupuk, hingga deterjen.

“Tidak hanya untuk BBM, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh sektor industri dan pertambangan. Ini termasuk untuk kebutuhan bahan baku petrokimia,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Lebih lanjut, pemerintah berencana membentuk Badan Layanan Umum (BLU) yang akan menangani transaksi langsung dengan pihak Rusia terkait pembelian minyak mentah tersebut. Skema ini dipertimbangkan karena dinilai lebih fleksibel dibanding jika seluruh proses dilakukan melalui BUMN.

Yuliot menjelaskan bahwa jika pembelian dilakukan oleh BUMN seperti Pertamina, terdapat sejumlah prosedur yang harus dilalui, termasuk mekanisme tender dan kontrak dengan pihak lain. Hal tersebut dinilai dapat memperlambat proses pengadaan.

“Kalau melalui BUMN ada tahapan yang harus diikuti, termasuk tender. Sementara skema government to government (G2G) melalui BLU bisa lebih cepat dan fleksibel, termasuk dari sisi pembiayaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini pemerintah masih menyiapkan aturan dan payung hukum untuk pembentukan BLU tersebut. Kajian juga tengah dilakukan bersama berbagai kementerian dan lembaga terkait, termasuk aspek pembiayaan dan mekanisme distribusi agar pelaku usaha dapat langsung memanfaatkan pasokan minyak sesuai kebutuhan masing-masing sektor.(BY)