Wali Kota Pariaman Serahkan Ijazah Paket, Dibalik Jeruji Harapan Mengusik Nurani

Kota Pariaman – Suasana haru menyelimuti Mushala di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pariaman, Sumatera Barat, pada Selasa (7/4/2026). Sebanyak 22 warga binaan pemasyarakatan (WBP) berdiri dengan mata berkaca-kaca, menggenggam ijazah Paket A, B, dan C.

Selembar kertas ijazah yang bagi sebagian orang biasa saja, namun bagi mereka adalah simbol perlawanan terhadap masa lalu yang kelam.

Di tempat yang selama ini identik dengan hukuman, justru lahir secercah cahaya harapan begitu menerima ijazah. Program pendidikan yang berjalan sejak 2023 menjadi bukti bahwa negara tidak sepenuhnya menutup pintu bagi mereka yang pernah tersesat. Di balik tembok tinggi itu, masa depan ternyata masih bisa dirajut, perlahan namun pasti.

Wali Kota Pariaman Yota Balad, yang menyerahkan langsung ijazah tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Ia menyebut momen itu sebagai investasi kemanusiaan. Sebuah langkah nyata untuk “memanusiakan manusia” yang selama ini kerap terpinggirkan oleh stigma sosial.

“Di balik jeruji bukan berarti berhenti belajar,” pesannya tegas. Pendidikan, katanya, adalah hak yang tak boleh dicabut, bahkan oleh kesalahan masa lalu. Ijazah itu bukan sekadar bukti kelulusan, melainkan tanda bahwa harapan belum mati.

Namun lebih dari sekadar seremoni, langkah ini menyimpan makna yang lebih dalam. Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman berjanji, ketika para warga binaan ini kembali ke tengah masyarakat, mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa bekal. Pengetahuan, keterampilan, dan peluang untuk hidup lebih bermartabat.

Sejak 2023 hingga kini, tercatat 66 warga binaan telah lulus, sementara puluhan lainnya masih berjuang menempuh pendidikan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan kisah tentang keberanian untuk berubah dan kesempatan kedua yang mulai terbuka.

Di sisi lain, Kepala Lapas, Boy Irfan Arslan, menegaskan bahwa penjara bukanlah akhir segalanya.

Ia menyebut ijazah yang diterima para warga binaan sebagai “kunci masa depan”. Alat untuk membuka pintu kehidupan baru yang lebih layak.

“Jangan malu dengan masa lalu,” ujarnya lantang. Sebab di tempat yang paling terbatas sekalipun, harapan tetap menemukan jalannya. Dan hari itu, di dalam sunyi penjara, masa depan diam-diam mulai dibebaskan.(mak).