Kapolda Sumbar dan Bupati Padang Pariaman Tebar 850 Bibit Ikan Gurami Nila untuk Huntara Batang Anai

Padang Pariaman – Di tempat yang dulu hanya menyimpan luka, harapan tiba tanpa banyak protokoler. Di kawasan Huntara Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat pertemuan John Kenedy Azis dan Irjen Pol Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, Rabu (1/4/2026) bukan sekadar agenda resmi. Ini tentang negara yang akhirnya benar-benar menyentuh denyut kehidupan warganya.

Tak ada panggung megah, tak ada jarak kekuasaan. Yang ada hanyalah warga yang masih berjuang dari puing bencana, duduk berdampingan dengan para pemimpin.

Dalam suasana Halal Bihalal di Nagari Katapiang, kehangatan terasa jujur. Tanpa dibuat-buat.
Namun yang membuat momen ini berbeda adalah keberanian untuk bergerak, bukan sekadar berbicara.

Sebanyak 850 bibit ikan nila dan gurami ditebar. Bukan angka yang fantastis, tapi cukup untuk menyalakan satu pesan penting: warga huntara tidak boleh selamanya bergantung, mereka harus bangkit dengan tangan mereka sendiri.

Langkah itu seperti tamparan halus bagi pola lama bantuan sosial yang sering memanjakan tanpa arah. Kali ini, bantuan diarahkan pada ketahanan pangan. Memberi kail, bukan sekadar ikan. Di tengah kondisi serba terbatas, ini adalah investasi harapan.

Penanaman pohon di sekitar huntara pun bukan seremoni pelengkap. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap keputusasaan. Di tanah yang pernah dihantam bencana, kehidupan baru ditanam. Akar-akarnya kelak akan menjadi saksi bahwa warga di sini tidak menyerah.

Bagi Gatot Tri Suryanta, kehadiran aparat tak boleh hanya terasa saat masalah muncul. Negara harus hadir saat rakyat berjuang bertahan hidup. Pernyataan itu terasa lebih kuat karena dibuktikan langsung di lapangan, bukan hanya di podium.

Sementara itu, John Kenedy Azis menangkap pesan yang lebih dalam. Pemulihan bukan hanya soal membangun fisik, tapi juga memulihkan harapan. Sinergi seperti ini, katanya, adalah energi yang menjaga masyarakat tetap berdiri di tengah keterbatasan.

Dan ketika acara ditutup dengan makan bajamba, suasana berubah menjadi sangat manusiawi. Tak ada lagi sekat jabatan. Yang tersisa hanyalah kebersamaan. Dan keyakinan bahwa di tengah segala kekurangan, harapan masih punya tempat untuk tumbuh.(bay).