Padang Pariaman – Air mata tak bisa dibendung ketika kunci rumah itu berpindah tangan dari Ketua TP PKK Padang Pariaman Ny.Nita Azis kepada perempuan Agustina, Rabu (1/4/2026). Tepatnya di sudut sederhana Korong Sikuliek, Nagari Sungai Buluah Timur, Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat harapan yang lama terkubur, akhirnya menemukan bentuknya.
Selama ini, kehidupan Ibu Agustina dalam keterbatasan, kini telah berdiri di depannya sebuah bangunan rumah yang lebih layak. Sebuah simbol bahwa kepedulian masih hidup di tengah kerasnya realitas.
Tak banyak yang tahu, di balik berdirinya rumah itu, ada cerita panjang tentang kebersamaan. Bukan proyek megah dengan anggaran fantastis, melainkan gotong royong yang lahir dari hati.
Keluarga, tetangga, hingga masyarakat sekitar bahu-membahu menyelesaikan renovasi, menegaskan bahwa solidaritas sosial belum mati di ranah Minang.
Program “PKK Peduli” kembali menjadi sorotan. Di tengah kritik bahwa banyak gerakan sosial hanya berakhir sebagai seremonial, Tim Penggerak PKK Kabupaten Padang Pariaman justru membalik persepsi itu.
Rumah milik Agustina menjadi bukti konkret. Ini bukan janji, tapi kerja nyata yang bisa disentuh dan dirasakan.
Dana yang terkumpul pun bukan angka kecil. Sekitar Rp25 juta digalang dari para donatur lintas daerah, bahkan hingga luar negeri.
Nama-nama seperti Titik Soeharto hingga Riana dari Lampung ikut ambil bagian. Ditambah dukungan Rp10 juta dari pihak nagari, bantuan ini menjadi contoh bahwa kolaborasi bisa melampaui batas geografis.
Ketua TP-PKK Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, tidak menampik bahwa program ini lahir dari kepercayaan publik. Ia menegaskan, PKK bukan pemilik dana, melainkan jembatan kebaikan.
Transparansi dijaga ketat, melibatkan Inspektorat dan Baznas agar bantuan tepat sasaran, bukan sekadar formalitas atau titipan kepentingan.
Namun di balik keberhasilan ini, terselip ironi. Masih banyak warga yang hidup di rumah tak layak huni, menunggu giliran disentuh program serupa. Nita mengakui, rumah Agustina adalah yang keempat direnovasi. Artinya, perjuangan masih panjang dan kebutuhan masih menggunung.
Kini, harapan itu tidak lagi abstrak. Ibu Agustina yang dulunya harus menyeberangi sungai dengan akses terbatas. Bahkan setelah jembatan hanyut diterjang banjir.
Akhirnya bisa merasakan arti tinggal di rumah yang aman. Sebuah kebahagiaan sederhana yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi dirinya adalah mimpi yang menjadi nyata.(bay).






