Jakarta – Pemerintah Rusia akan melarang ekspor bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diambil untuk memastikan ketersediaan energi di dalam negeri sekaligus menahan fluktuasi harga akibat ketegangan global yang muncul dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Keputusan ini muncul setelah pemerintah menilai bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah memicu ketidakstabilan harga minyak dan produk turunannya di pasar internasional, meskipun permintaan ekspor Rusia tetap tinggi.
Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil setelah rapat evaluasi terkait pasar bahan bakar domestik yang dipimpinnya pada akhir pekan lalu. Pemerintah menekankan arahan Presiden Vladimir Putin agar harga BBM di dalam negeri tetap sesuai proyeksi yang ditetapkan.
Menurut laporan Kementerian Energi Rusia, kapasitas pengolahan minyak saat ini stabil, setara dengan level Maret 2025, yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Selain itu, perusahaan-perusahaan energi Rusia melaporkan stok bensin dan solar aman, didukung pemanfaatan kilang yang tinggi untuk menjaga pasokan nasional.
“Pemerintah menaruh perhatian besar pada target Presiden Rusia untuk mencegah kenaikan harga bahan bakar domestik melebihi perkiraan. Tingkat pengolahan minyak tetap stabil sehingga pasokan produk minyak di dalam negeri terjaga,” tulis laporan Kementerian Energi, dikutip dari berbagai sumber, Minggu (29/3/2026).
Sebagai tindak lanjut, Novak meminta Kementerian Energi menyiapkan regulasi larangan ekspor bensin mulai April 2026. Langkah ini diharapkan bisa menjaga stabilitas harga energi domestik di tengah ketidakpastian pasar global yang terus meningkat.
“Setelah rapat, Kementerian Energi diminta menyiapkan rancangan keputusan untuk melarang ekspor bensin mulai 1 April 2026 agar harga tetap stabil dan pasokan untuk pasar domestik terjamin,” tambah Novak.(BY)






