Kota Pariaman – Suasana Aula Balaikota Pariaman, Sumatera Barat, pada Senin (2/3/2026) mendadak hening ketika lima nama dipanggil satu per satu. Di hadapan Wali Kota Pariaman, Yota Balad dan Wakil Wali Kota Mulyadi, para ahli waris menerima santunan kematian.
Bukan sekadar amplop simbolis, melainkan bukti nyata bahwa perlindungan sosial bukan janji kosong. Air mata dan tepuk tangan berbaur dalam satu pesan. Risiko kerja tak pernah memberi aba-aba.
Kegiatan Sosialisasi Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU) menjadi panggung penegasan komitmen.
Kolaborasi antara Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman dan BPJS Ketenagakerjaan itu bukan sekadar seremoni tahunan. Melainkan gerakan membangun jaring pengaman bagi pedagang kecil, nelayan, petani, hingga pengemudi ojek. Mereka yang setiap hari berjibaku dengan ketidakpastian.
“Hari ini kita serahkan santunan kepada lima ahli waris. Tiga dari petugas keagamaan dan lembaga adat, dua dari pekerja rentan program Tuwai Ketan. Ini bukti, bukan wacana,” tegas Wali Kota Yota Balad.
Ia mengingatkan, kecelakaan dan kematian tak memilih profesi. Siapa pun yang mencari nafkah di lapangan, menyimpan risiko yang sama besarnya.
Di sela acara, inovasi “TUWAI KETAN” (Satu Pegawai Satu Pekerja Rentan) kembali digaungkan. Sebuah skema gotong royong modern, di mana ASN di lingkungan Pemko Pariaman menanggung iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan.
“Ini bukan sekadar kewajiban administrasi. Ini kasih sayang agar keluarga tidak runtuh ketika tulang punggungnya pergi,” ujar Yota dengan nada tegas.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Padang Pariaman, Herry Asmanto, tak menutupi apresiasinya. Ia menegaskan, perlindungan sosial bukan hanya milik pekerja kantoran.
Dengan iuran yang sangat terjangkau. Bahkan gratis bagi BPU yang ditanggung pemerintah. Peserta berhak atas pengobatan tanpa batas biaya sesuai kebutuhan medis jika mengalami kecelakaan kerja, serta santunan tunai bagi ahli waris jika terjadi kematian. “Negara hadir agar keluarga tidak terjerumus ke jurang kemiskinan,” katanya lugas.
Ironisnya, di tengah kemudahan dan pembiayaan penuh dari pemerintah daerah, masih ada pekerja yang enggan mendaftar. Padahal, di Kota Pariaman, akses sudah dibuka selebar-lebarnya. Sosialisasi ini menjadi alarm keras.Jangan tunggu musibah datang baru menyadari arti perlindungan.
Di akhir acara, harapan digantungkan pada para peserta yang hadir. Mereka diminta menjadi perpanjangan tangan edukasi di lingkungan masing-masing.
Sebab ketenangan bekerja bukan lahir dari keberanian semata, melainkan dari kepastian perlindungan. Dan di Pariaman, pesan itu kini ditegaskan. Bekerja boleh keras, tapi masa depan keluarga tak boleh dibiarkan tanpa jaring pengaman.(mak).






